Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Januari 2025 | 15.39 WIB

Menurut Psikologi Orang yang Terlalu Banyak Dikritik saat Kecil Biasanya Mengembangkan 7 Sifat ini Saat Dewasa

Ilustrasi tujuh sifat yang seringkali muncul dari pola asuh yang banyak kritik. (Pexels/Photo By: Kaboompics.com) - Image

Ilustrasi tujuh sifat yang seringkali muncul dari pola asuh yang banyak kritik. (Pexels/Photo By: Kaboompics.com)

JawaPos.com - Pola asuh di masa kecil memiliki dampak yang bertahan lama pada kepribadian dan perilaku seseorang, terutama yang melibatkan kritik.

Anak-anak yang mengalaminya, kemungkinan besar telah mengembangkan sifat-sifat tertentu terhadap respon dari pola asuh ini.

Proses mengidentifikasi ciri-ciri dapat memberikan sebuah pencerahan. Ini adalah proses perjalanan memahami diri sendiri dan memberikan wawasan tentang alasan mengapa beberapa orang berperilaku seperti itu.

Dilansir dari Geediting, terdapat tujuh sifat yang seringkali muncul dari pola asuh yang banyak kritik.

1. Terlalu kritis terhadap diri sendiri

Salah satu sifat umum yang dikembangkan oleh mereka yang terlalu banyak dikritik saat anak-anak adalah terlalu kritis terhadap diri sendiri. Hal ini sebagai bagian dalam upaya memenuhi standar tinggi yang ditetapkan untuk mereka di tahun-tahun pembentukan diri.

Individu seperti itu seringkali menjadi pengkritik paling keras bagi diri mereka sendiri. Mereka mungkin memiliki ketakutan besar untuk membuat kesalahan dan rentan terhadap kecemasan dan perfeksionisme.

Kritik diri ini tidak hanya terbatas pada tindakan mereka, tetapi juga dapat terwujud dalam pembicaraan negatif dengan diri sendiri dan perasaan tidak mampu yang terus menerus, terlepas dari pencapaian mereka.

2. Hipersensitif terhadap kritik

Tumbuh besar dengan banyak kritikan dapat mengakibatkan hipersensitivitas terhadap segala bentuk kritik di kemudian hari. Ini karena individu mungkin menganggap kritikan sebagai serangan terhadap harga diri mereka, bukan umpan balik yang membangun.

Kritik ringan sekalipun dapat memicu respons emosional yang intens, termasuk perasaan marah, sedih, atau cemas. Hipersensitivitas ini juga dapat menyebabkan penghindaran situasi yang memungkinkan kritik terjadi.

Hal ini dapat menghambat pertumbuhan pribadi dan kemajuan profesional karena umpan balik yang membangun seringkali merupakan bagian penting dari peningkatan dan kemajuan.

3. Sulit mempercayai orang lain

Mengalami kritik berlebihan di masa kanak-kanak dapat menyebabkan masalah kepercayaan di masa dewasa. Orang tersebut mungkin merasa sulit untuk percaya pada ketulusan orang lain, dan seringkali mencurigai adanya motif tersembunyi atau mengantisipasi pengkhianatan.

Akar dari ketidakpercayaan ini biasanya berasal dari rasa takut dihakimi atau dikritik. Kesulitan dalam hal kepercayaan ini dapat memengaruhi hubungan, menciptakan hambatan dalam membentuk hubungan yang mendalam dan bermakna dengan orang lain.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore