
Ilustrasi tujuh sifat yang seringkali muncul dari pola asuh yang banyak kritik. (Pexels/Photo By: Kaboompics.com)
JawaPos.com - Pola asuh di masa kecil memiliki dampak yang bertahan lama pada kepribadian dan perilaku seseorang, terutama yang melibatkan kritik.
Anak-anak yang mengalaminya, kemungkinan besar telah mengembangkan sifat-sifat tertentu terhadap respon dari pola asuh ini.
Proses mengidentifikasi ciri-ciri dapat memberikan sebuah pencerahan. Ini adalah proses perjalanan memahami diri sendiri dan memberikan wawasan tentang alasan mengapa beberapa orang berperilaku seperti itu.
Dilansir dari Geediting, terdapat tujuh sifat yang seringkali muncul dari pola asuh yang banyak kritik.
1. Terlalu kritis terhadap diri sendiri
Salah satu sifat umum yang dikembangkan oleh mereka yang terlalu banyak dikritik saat anak-anak adalah terlalu kritis terhadap diri sendiri. Hal ini sebagai bagian dalam upaya memenuhi standar tinggi yang ditetapkan untuk mereka di tahun-tahun pembentukan diri.
Individu seperti itu seringkali menjadi pengkritik paling keras bagi diri mereka sendiri. Mereka mungkin memiliki ketakutan besar untuk membuat kesalahan dan rentan terhadap kecemasan dan perfeksionisme.
Kritik diri ini tidak hanya terbatas pada tindakan mereka, tetapi juga dapat terwujud dalam pembicaraan negatif dengan diri sendiri dan perasaan tidak mampu yang terus menerus, terlepas dari pencapaian mereka.
2. Hipersensitif terhadap kritik
Tumbuh besar dengan banyak kritikan dapat mengakibatkan hipersensitivitas terhadap segala bentuk kritik di kemudian hari. Ini karena individu mungkin menganggap kritikan sebagai serangan terhadap harga diri mereka, bukan umpan balik yang membangun.
Kritik ringan sekalipun dapat memicu respons emosional yang intens, termasuk perasaan marah, sedih, atau cemas. Hipersensitivitas ini juga dapat menyebabkan penghindaran situasi yang memungkinkan kritik terjadi.
Hal ini dapat menghambat pertumbuhan pribadi dan kemajuan profesional karena umpan balik yang membangun seringkali merupakan bagian penting dari peningkatan dan kemajuan.
3. Sulit mempercayai orang lain
Mengalami kritik berlebihan di masa kanak-kanak dapat menyebabkan masalah kepercayaan di masa dewasa. Orang tersebut mungkin merasa sulit untuk percaya pada ketulusan orang lain, dan seringkali mencurigai adanya motif tersembunyi atau mengantisipasi pengkhianatan.
Akar dari ketidakpercayaan ini biasanya berasal dari rasa takut dihakimi atau dikritik. Kesulitan dalam hal kepercayaan ini dapat memengaruhi hubungan, menciptakan hambatan dalam membentuk hubungan yang mendalam dan bermakna dengan orang lain.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
