
Ilustrasi delapan kebiasaan merusak diri yang cenderung muncul pada orang-orang yang mencintai dengan sungguh-sungguh tetapi mudah terluka. (Pexels/Mental Health America)
JawaPos.com - Seseorang yang peduli dengan orang lain seringkali menampilan dua sisi mata uang yang berbeda. Hal-hal baiknya luar biasa, tetapi ada hal-hal buruk yang sangat menyakitkan.
Cinta yang intens semacam ini seringkali disertai dengan sisi buruk yaitu membuat diri sendiri lebih rentan terhadap rasa sakit. Perasaan ini memiliki cara licik yang dapat membuat kebiasaan dan terkadang menjadi celah yang merugikan diri sendiri.
Dilansir dari Hack Spirit, terdapat delapan kebiasaan merusak diri yang cenderung muncul pada orang-orang yang mencintai dengan sungguh-sungguh tetapi mudah terluka.
1. Berpikir berlebihan (overthinking)
Orang yang mencintai secara mendalam dan mudah terluka cenderung mempunyai pikiran yang sangat aktif. Mereka berpikir, lalu berpikir lebih lanjut. Berpikir berlebihan dapat menjadi berkah sekaligus kutukan.
Di satu sisi, hal itu memungkinkan individu menganalisis situasi secara mendalam dan memahami perasaan orang lain pada tingkat yang mendalam. Inilah sebagian hal yang membuat mereka menjadi orang yang penuh kasih sayang dan empati.
Namun, sisi buruknya adalah pemikiran berlebihan ini seringkali menimbulkan kekhawatiran, kecemasan, dan stres yang tidak perlu. Rasanya seperti terjebak dalam lingkaran "bagaimana jika" dan skenario terburuk.
Berpikir berlebihan dapat membuat mereka sulit untuk melangkah maju setelah mengalami rasa sakit atau kekecewaan. Alih-alih melepaskan dan terus maju, individu ini mungkin memutar ulang situasi tersebut berulang-ulang dalam kepalanya, menganalisis setiap detail dan setiap kemungkinan hasil.
2. Ragu dengan diri sendiri terus menerus
Mereka yang mencintai secara mendalam dan mudah terluka seringkali berjuang melawan keraguan diri yang kronis. Mereka mulai mempertanyakan harga dirinya setiap kali seseorang yang sangat mereka sayangi mengecewakannya.
Seolah-olah tindakan orang lain merupakan cerminan harga dirinya, membuat mereka terus-menerus mempertanyakan nilai dan kemampuannya. Keraguan diri ini merupakan bentuk penghancuran diri.
Keraguan ini mengikis harga diri dan kepercayaan diri, sehingga semakin sulit untuk bangkit kembali dari patah hati atau kekecewaan.
3. Mengabaikan kebutuhan pribadi
Mereka yang mencintai sepenuh hati seringkali mengutamakan kebutuhan orang lain daripada kebutuhannya sendiri. Faktanya, sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang sensitif secara emosional atau berempati lebih cenderung mengabaikan kebutuhan mereka sendiri demi kebutuhan orang lain.
Kebiasaan ini, meski tampak mulia, dapat merusak diri sendiri. Mirip dengan analogi lama masker oksigen di pesawat terbang, mereka perlu mengamankan masker sendiri sebelum membantu orang lain.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
