
Ilustrasi seseorang yang sering membeli barang yang tidak mereka butuhkan. (Freepik)
JawaPos.com – Ada perbedaan yang jelas antara menjadi pembeli cerdas dan pemboros tanpa sadar. Semua bermula dari niat. Membeli sesuatu yang diinginkan meskipun tidak dibutuhkan bisa membawa kebahagiaan.
Namun, jika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus tanpa alasan yang jelas, bisa jadi itu adalah perilaku yang tidak disadari. Sering membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan sering kali mengungkap sifat atau kebiasaan tertentu tanpa disadari oleh pelakunya.
Dilansir dari Blog Herald pada Selasa (28/1), berikut ini adalah tujuh sifat yang sering dimiliki oleh orang-orang yang kerap membeli barang tidak perlu.
Tujuannya bukan untuk menghakimi, melainkan untuk meningkatkan kesadaran dan membantu membangun kebiasaan belanja yang lebih bijak.
Sifat impulsif sering menjadi penyebab utama kebiasaan belanja yang tidak perlu. Kita semua pasti pernah mengalaminya.
Keputusan spontan membuat kita membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, tetapi saat itu terasa seperti ide yang bagus. Hal ini sering terjadi pada orang yang terbiasa belanja tanpa rencana.
Sensasi senang saat membeli sesuatu baru bisa sangat adiktif, sehingga mendorong kebiasaan belanja impulsif. Yang menarik, banyak orang dengan kecenderungan ini tidak menyadarinya.
Mereka melihat tindakan mereka sebagai sesuatu yang spontan atau seru, bukan sebagai kebiasaan impulsif.
Mengenali sifat ini bisa menjadi langkah awal untuk mengendalikan pengeluaran yang tidak perlu. Yang penting adalah memahami perbedaan antara sesekali memanjakan diri dan kebiasaan belanja impulsif yang tidak terkendali.
Siapa yang tidak tergoda dengan diskon besar? Melihat tanda diskon sering kali membuat seseorang merasa bahwa membeli barang yang tak dibutuhkan tetap masuk akal, asalkan harganya lebih murah.
Misalnya, memutuskan membeli sepatu dengan warna mencolok hanya karena mendapat potongan harga 70 persen.
Apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan? Tidak. Apakah barang itu akhirnya digunakan? Bisa jadi tidak, hanya teronggok di lemari tanpa pernah dipakai.
Sifat ini umum dimiliki oleh orang yang sering membeli barang yang tidak mereka perlukan. Godaan harga murah sering kali sulit untuk ditolak, meskipun barang tersebut sebenarnya tidak penting. Padahal, meskipun harganya murah, tetap saja itu pemborosan jika barangnya tidak berguna.
Dalam masyarakat yang merayakan budaya konsumtif, tidak heran jika banyak orang memiliki pola pikir materialistis.
Beberapa orang membeli barang bukan karena butuh, tetapi karena percaya bahwa kepemilikan barang tertentu bisa memberi kebahagiaan atau meningkatkan status sosial mereka.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
