
Ilustrasi foto hitam putih (Volkan Olmez/ Unsplash)
JawaPos.com - Apakah Anda memiliki teman yang akhir-akhir ini suka mengunggah foto bernuansa monokrom hitam putih yang cenderung gelap di media sosial? Kalau iya, segera temui teman Anda sekarang dan tanyakan apakah dia baik-baik saja. Karena menurut studi, itu bisa menjadi indikasi seseorang sedang depresi.
Benarkah sering mengunggah foto hitam putih jadi indikasi depresi pada seseorang?
Dilansir dari Social Media Psychology, meski sekilas gambar hitam putih terlihat artistik dan elegan, namun hasil dari studi yang dilakukan di Universitas Harvard dan Universitas Vermont pada 2016, menunjukkan bahwa mereka yang memupublikasikan gambar monokromatik yang gelap dapat menjadi tanda depresi.
Penelitian tersebut mengungkapkan, bahwa dari survey pada 166 pengguna Instagram, menyatakan bahwa bahwa individu yang terindikasi depresi memang akan cenderung memublikasikan foto yang bernuansa lebih biru, lebih abu-abu, dan lebih gelap di platform tersebut.
Menurut Live Science, individu dengan diagnosis depresi tidak suka menggunakan filter pada fotonya. Kalaupun menggunakan filter, mereka lebih suka mengedit foto yang akan mereka unggah dengan filter hitam putih seperti "Inkwell. Ciri-ciri ini sama seperti hasil penelitian yang menunjukkan bahwa depresi terkait dengan preferensi warna yang lebih gelap, lebih biru, dan monokromatik.
Para peniliti juga menemukan, bahwa orang-orang dengan diagnosis depresi juga cenderung mengunggah foto yang menampilkan orang lain, bukan dirinya sendiri. Tetapi dibandingkan dengan pengguna lain yang tidak di diagnosis depresi, mereka juga tidak terlalu suka mengunggah foto yang menampilkan banyak orang.
Padahal orang-orang yang biasa, malah lebih suka mengedit fotonya menjadi lebih cerah, atau menggunakan filter yang membuat tampilan foto lebih cantik dan cenderung tidak segan menggunggah foto yang menampilkan momen kebersamaan dengan teman atau keluarga.
"Ada bukti bahwa orang yang mengalami depresi cenderung berinteraksi dalam lingkungan sosial yang lebih kecil. Jika ada banyak wajah dalam foto, maka itu mungkin berarti Anda berinteraksi dalam lingkungan sosial yang lebih besar," kata Andrew Reece, peneliti dari Universitas Harvard yang mengerjakan studi tersebut., dikutip dari NPR.org.
Meski begitu, bukan berarti orang yang suka mengunggah foto monokrom pasti adalah orang yang menderita depresi, namun ciri-ciri tersebut dapat menjadi salah satu indikasi saja. Diagnosa apakah seseorang benar-benar menderita depresi atau tidak, tentu hanya bisa dikonfirmasi oleh tenaga profesional, dalam hal ini psikolog atau psikiater saja,
Jika Anda menemukan orang, atau teman Anda yang tiba-tiba memilki ciri-ciri seperti yang dipaparkan di artikel ini, jangan tergesa-gesa menyimpulkan berdasarkan apa yang Anda lihat sekilas, tanpa mengkonfirmasikannya dengan yang bersangkutan.
***
