
ilustrasi seseorang yang menanggung luka emosional./Freepik.
JawaPos.com - Masa kecil adalah fondasi yang membentuk kepribadian seseorang.
Saat anak-anak dibesarkan dalam lingkungan yang sehat, mereka cenderung tumbuh menjadi individu yang stabil secara emosional.
Namun, bagi mereka yang tumbuh dalam kekacauan emosional—entah karena pola asuh yang penuh konflik, kurangnya kasih sayang, atau pelecehan emosional—bekas luka emosional yang mendalam sering terbawa hingga dewasa.
Dilansir dari Geediting pada Sabtu (11/1), terdapat delapan bekas luka emosional yang umum dialami menurut psikologi:
1. Rasa Tidak Berharga
Anak-anak yang sering diabaikan atau diperlakukan dengan kasar oleh orang tua sering tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka tidak cukup baik atau tidak berharga.
Hal ini muncul karena mereka terus-menerus menerima pesan, baik secara langsung maupun tidak langsung, bahwa keberadaan mereka tidak penting.
Sebagai orang dewasa, mereka sering merasa tidak layak mendapatkan cinta, perhatian, atau keberhasilan, sehingga sulit membangun hubungan yang sehat.
2. Ketidakamanan yang Berlebihan
Lingkungan yang penuh konflik atau tidak dapat diprediksi membuat anak-anak tumbuh dengan rasa ketidakamanan.
Ketika mereka dewasa, mereka cenderung mengalami kecemasan berlebihan, ketakutan akan penolakan, dan kesulitan mempercayai orang lain.
Ketidakamanan ini dapat memengaruhi hubungan interpersonal dan kehidupan profesional mereka.
3. Kesulitan Mengekspresikan Emosi
Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan di mana emosi dianggap sebagai sesuatu yang salah atau tidak penting sering belajar untuk menekan perasaan mereka.
