
Ilustrasi keluarga broken home. (Freepik)
JawaPos.com – Pernikahan yang berakhir dengan perceraian atau perpecahan keluarga kerap memberikan dampak besar pada anak-anak yang terlibat di dalamnya.
Istilah “broken home” menggambarkan situasi di mana salah satu atau kedua orang tua tidak lagi tinggal bersama anak-anak mereka karena perpisahan atau perceraian.
Dampak dari keadaan ini bisa terasa sepanjang hidup anak, baik dalam perkembangan emosional, sosial, maupun akademis.
Meskipun setiap anak dapat merespons situasi ini secara berbeda, banyak studi yang menunjukkan adanya efek negatif yang cukup signifikan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga broken home sering kali mengalami gangguan emosional, kesulitan dalam membentuk hubungan interpersonal yang sehat, hingga penurunan prestasi di sekolah.
Namun, penting untuk diingat bahwa dampak ini tidak selalu bersifat permanen. Dengan dukungan yang tepat, anak-anak ini dapat mengatasi tantangan yang mereka hadapi dan tumbuh menjadi individu yang tangguh dan sehat secara emosional.
Dilansir dari American Psychological Association dan National Institutes of Health, berikut empat dampak serius keluarga broken home pada anak.
Anak-anak yang berasal dari keluarga broken home lebih rentan terhadap gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan stres.
Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh University of Minnesota, anak-anak yang orang tuanya bercerai memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami depresi dan gangguan kecemasan dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh dalam keluarga utuh.
Penelitian ini menyebutkan bahwa perasaan terabaikan dan ketidakstabilan emosional menjadi faktor utama yang menyebabkan gangguan mental pada anak-anak tersebut.
Selain itu, anak-anak yang hidup di lingkungan yang penuh konflik atau ketegangan antara orang tua mereka sering kali merasa cemas dan tidak aman, yang dapat memperburuk kondisi mental mereka.
Ini bisa berlanjut hingga masa remaja dan dewasa muda, di mana mereka merasa kesulitan untuk mempercayai orang lain atau membangun hubungan yang sehat.
Anak-anak dari keluarga broken home sering kali mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial yang sehat. Mereka mungkin merasa terisolasi atau kesulitan bergaul dengan teman sebaya karena pengalaman trauma yang mereka alami di rumah.
Hal ini diungkapkan oleh psikolog dari American Psychological Association, Dr. Elizabeth Scott.
Dia menyatakan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang terpecah cenderung memiliki masalah dalam membangun hubungan jangka panjang baik dengan teman-teman maupun pasangan.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
