
Ilustrasi berita palsu (freepik)
JawaPos.com - Berita palsu seperti “Pemimpin Dunia Ditangkap Karena Korupsi” atau “Alien Ditemukan di Bumi” sering muncul di media sosial dan menarik perhatian banyak orang. Meski terdengar mustahil, tak sedikit yang percaya dan bahkan menyebarkannya.
Psikologi menunjukkan bahwa ada beberapa kebiasaan yang membuat seseorang lebih rentan mempercayai berita hoaks. Dari terlalu bergantung pada media sosial hingga mengabaikan pengecekan fakta, kebiasaan ini membuka jalan bagi penyebaran informasi palsu.
Dilansir dari kanal laman Small Business Bonfire, Jumat (06/12), berikut adalah 9 kebiasaan yang sering dimiliki oleh orang-orang yang mudah terjebak berita hoaks:
Media sosial memudahkan akses berita, tetapi juga menjadi tempat berkembangnya hoaks. Algoritma media sosial cenderung menciptakan "echo chamber" yang memperkuat keyakinan seseorang tanpa menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Akibatnya, pengguna yang hanya mengandalkan media sosial untuk berita lebih mudah tertipu informasi palsu.
Banyak orang langsung membagikan berita tanpa memeriksa sumbernya. Berita yang terlihat meyakinkan sering kali berasal dari situs yang tidak kredibel atau bahkan dikenal sebagai penyebar hoaks. Kebiasaan ini memperparah penyebaran berita palsu.
Berpikir kritis melibatkan analisis dan evaluasi informasi secara objektif. Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kemampuan berpikir kritis lebih kecil kemungkinannya tertipu hoaks. Tanpa kemampuan ini, seseorang cenderung menerima informasi tanpa mempertanyakannya.
Orang lebih cenderung mempercayai berita yang sesuai dengan keyakinan atau pandangan mereka, bahkan jika faktanya meragukan. Fenomena ini disebut confirmation bias. Kebiasaan ini dapat membuat seseorang menolak fakta yang berlawanan dengan keyakinannya.
Ketakutan akan ketinggalan berita sering membuat seseorang terburu-buru membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya. Dalam upaya "tetap terhubung," mereka justru menjadi perantara penyebaran hoaks.
Berita yang menggugah emosi, seperti cerita sedih atau mengejutkan, sering membuat orang lupa berpikir rasional. Mereka langsung percaya tanpa memverifikasi, hanya karena cerita tersebut menyentuh hati atau memicu amarah.
Judul-judul menarik dan sensasional dirancang untuk memicu rasa penasaran, tetapi sering kali berita di baliknya tidak sesuai dengan fakta. Ketertarikan pada clickbait membuat seseorang lebih mudah termakan hoaks.
Banyak yang merasa dirinya kebal terhadap hoaks, tetapi justru keyakinan ini membuat mereka berhenti mempertanyakan dan memverifikasi informasi. Rasa percaya diri berlebih bisa menjadi celah bagi hoaks untuk masuk.
Mengecek fakta memang membutuhkan waktu, tetapi kebiasaan ini sangat penting. Mengandalkan informasi dari sumber terpercaya dan melakukan verifikasi dapat membantu mencegah penyebaran berita palsu.
***

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
