
Ilustrasi 6 cara yang dapat dilakukan untuk mengelola dampak emosional dari liburan.
JawaPos.com - Bagi sebagian orang, liburan menjadi waktu yang tepat untuk merayakan berbagai kegiatan menyenangkan, keakraban, dan kehangatan. Namun, bagi sebagian lainnya, liburan dapat melambangkan kesepian, luka lama yang muncul kembali, kecemasan, stres, dan ketakutan.
Hal ini terasa kontras antara apa liburan yang seharusnya dengan kenyataan yang seringkali terasa membebani. Liburan cenderung dapat memperkuat dinamika keluarga yang tidak harmonis, hubungan yang renggang, dan tekanan untuk membuat segalanya 'sempurna'.
Namun, orang tua, seringkali kelelahan karena berusaha mengikuti keluarga cemara yang menciptakan pengalaman yang sempurna dan ajaib untuk anak-anak sambil berjuang mengatasi tekanan finansial dan beban emosional selama musim liburan.
Belum lagi, untuk beberapa orang yang berduka karena kehilangan, liburan dapat terasa seperti waktu yang mencolok untuk merasakan kesepian. Dilansir dari Your Tango, inilah 6 cara yang dapat dilakukan untuk mengelola dampak emosional dari liburan.
1. Kelola ekspektasi
Jelaskan apa yang dapat dan tidak dapat kalian lakukan untuk diri sendiri dan keluarga, lalu patuhi itu. Jika mengunjungi kerabat terasa terlalu berat, tolak dengan baik dan bebaskan diri dari rasa bersalah.
Sebuah studi dalam Journal of Psychosocial Nursing and Mental Health Services menyarankan untuk menyederhanakan rencana kalian untuk memprioritaskan ketenangan pikiran daripada kesempurnaan.
2. Prioritaskan perawatan diri
Kalian tidak dapat menuangkan sesuatu dari cangkir yang kosong. Di tengah perayaan pribadi dan profesional, sisihkan waktu tenang untuk beristirahat dan mengisi ulang energi.
Baik itu menikmati secangkir teh dalam keheningan atau berjalan-jalan di alam. Prioritaskan apa yang paling penting dan bisa untuk mengisi ulang energi kalian.
3. Jangan memaksakan diri secara emosional dan finansial
Jika pesta liburan selalu berubah menjadi perdebatan politik, tidak apa-apa untuk melewatkannya tahun ini. Tolak dengan sopan atau sarankan note yang melarang topik sensitif selama acara kumpul-kumpul tersebut.
Secara finansial, ingatlah bahwa tagihan bulan Januari akan tetap datang tidak peduli berapa banyak hadiah 'sempurna' yang kalian beli. Buat dan patuhi anggaran liburan, dan utamakan yang paling penting daripada yang hanya lapar mata saja.
4. Hindari ranjau emosional
Mengulang-ulang argumen lama atau drama keluarga yang belum terselesaikan jarang sekali berakhir dengan baik, seperti yang dijelaskan oleh oleh sebuah penelitian dalam Family Relations Journal.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
