Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 November 2024 | 16.01 WIB

Menurut Psikologi, Orang yang Sering Tertipu dengan Berita Hoax Biasanya Menunjukkan 9 Perilaku Ini

Ilustrasi orang yang membaca berita hoax. (freepik.com/jcomp) - Image

Ilustrasi orang yang membaca berita hoax. (freepik.com/jcomp)


JawaPos.com - Di era teknologi yang serba canggih ini, membuat setiap orang mudah dalam membagikan dan mengakses seluruh informasi. Oleh karena itu, kita juga sering termakan berita hoax.

Seperti diketahui, berita palsu atau hoax yang menjadi fenomena yang mengkhawatirkan dikalangan masyarakat, terlebih saat isu-isu politik memanas.

Munculnya berita hoax ini menghasut fitnah serta kebencian pada salah satu pihak, sehingga masyarakat akan membenci dan timbullah komentar-komentar negatif padahal belum mengetahui pasti kebenerannya.

Melansir dari laman Small Business Bonfire pada (20/11) orang yang sering tertipu dengan berita hoax, biasanya menunjukkan 9 perilaku ini:

Baca Juga: Orang yang Selalu Menggunakan 'Filter Foto' di Media Sosial Memiliki 9 Ciri Kepribadian Ini, Menurut Psikologi

1. Ketergantungan yang pada berita di media sosial

Di era digital yang kita jalani, platform media sosial telah menjadi sumber berita utama bagi banyak orang. Mudah, cepat, dan tepat di ujung jari kita. Tapi ini juga merupakan tempat berkembang biaknya informasi yang salah dan berita hoax.

Orang-orang yang sangat bergantung pada media sosial untuk menerima berita cenderung lebih mudah terjerumus pada berita hoax. Algoritme pada platform ini menciptakan ruang gema, memberi kita informasi yang sejalan dengan keyakinan kita dan jarang menantang pandangan kita.

Saat menelusuri Facebook atau Twitter untuk mencari berita utama terbaru, pertimbangkan untuk memikirkan kembali untuk membaca berita.

2. Ketidaktahuan atas sumbernya

Mengabaikan sumber informasi merupakan perilaku umum orang-orang yang sering terjerumus pada berita hoax. Sangat mudah untuk terhanyut dalam judul berita yang mengejutkan atau narasi yang emosional, tapi tidak mementingkan dari mana berita itu berasal.

Selalu periksa kredibilitas sumbernya sebelum menerima berita tersebut sebagai kebenaran. Tidak semua situs atau akun media sosial memiliki integritas jurnalistik atau proses pemeriksaan fakta yang ketat.

Baca Juga: Mengungkap 8 Kepribadian Orang yang Memilih untuk Mengosongkan Foto Profil di WhatsApp, Menurut Psikologi

3. Kurangnya berpikir kritis

Berpikir kritis adalah keterampilan menganalisis informasi secara objektif dan membentuk penilaian yang masuk akal, yang melibatkan evaluasi data, fakta, dan penelitian secara cermat.

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa siswa dengan kemampuan berpikir kritis yang kuat memiliki kemungkinan lebih kecil untuk terjerumus pada berita hoax. Kapasitas untuk mempertanyakan, menganalisis, dan menilai kredibilitas berita berfungsi sebagai pertahanan terhadap misinformasi.

4. Bias informasi

Bias konfirmasi adalah fenomena psikologis disaat kita cenderung menyukai informasi yang menegaskan keyakinan atau nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya. Kita akan lebih mudah mempercayai sebuah berita jika sejalan dengan pandangan dunia sendiri, meskipun faktanya tidak jelas.

Mengatasi bias konfirmasi tidaklah mudah, hal ini membutuhkan kesadaran diri yang terus-menerus dan kemauan untuk menantang keyakinan sendiri.

Baca Juga: Awas! 10 Kebiasaan Ini Membunuh Produktivitas Kamu Menurut Psikologi, Jangan Disepelekan!

5. Takut ketinggalan

Fenomena ini disebut dengan FOMO, disaat mendapat informasi terbaru terasa seperti sebuah kebutuhan. Kita terus-menerus memeriksa ponsel, menelusuri feed media sosial, dan semua itu karena takut melewatkan sesuatu yang penting.

Ketakutan akan ketinggalan atau FOMO, dapat membuat kita mengambil tindakan. Karena ingin terus mengikuti perkembangan, terkadang mudah untuk berbagi cerita sebelum memeriksa kebenarannya.

6. Keterlibatan emosional

Berita yang menyentuh hati sanubari kita sulit untuk diabaikan. Mereka membangkitkan sesuatu dalam diri, memicu empati, kemarahan, atau kegembiraan. Tapi terkadang, emosi ini bisa mengaburkan penilaian diri terhadap berita.

Orang-orang yang sangat emosional dalam membaca berita lebih rentan terhadap berita hoax. Tarikan emosional tersebut dapat bertindak seperti tabir asap, mengaburkan batas antara kenyataan dan rekayasa.

7. Kerentanan terhadap clickbait

Clickbait adalah alat yang ampuh bagi pembuat berita hoax, dibuat untuk memicu rasa ingin tahu dengan janji skandal, pengungkapan, atau kisah yang mengharukan.
Tapi mengikuti tautan ini dapat menarik kita ke dalam jaringan informasi yang salah.

Berita yang benar itu tidak perlu sensasionalisme untuk didengar. Itu menyajikan berdasarkan fakta dan tanpa menyudutkan salah satu pihak.

8. Melebih-lebihkan kemampuan dalam mengenali berita hoax

Banyak di antara kita yang merasa yakin bahwa kita kebal terhadap berita hoax, dan percaya bahwa diri sendiri cukup cerdas untuk membedakan fakta dari fiksi. Ketika merasa tidak bisa dibodohi, kita berhenti bertanya, berhenti memverifikasi, dan mulai menganggap berita utama begitu saja.

Sejarawan Daniel J. Boorstin pernah berkata, “Rintangan terbesar terhadap penemuan bukanlah ketidaktahuan, melainkan ilusi pengetahuan.” Ilusi ini bisa menjadi titik buta, membuat kita lebih terbuka terhadap informasi yang salah daripada yang kita sadari.

9. Mengabaikan pengecekan fakta


Mengecek fakta bisa terasa seperti sebuah tugas, terutama saat kamu menelusuri berita. Tapi kebiasaan mengabaikan pengecekan fakta ini bisa membawa diri sendiri ke dalam pelukan berita hoax.

Hanya karena sebuah cerita dibagikan oleh seorang teman, atau berasal dari akun dengan ribuan pengikut, tidak serta merta menjadikan cerita tersebut benar. Berita hoax tumbuh subur dengan asumsi bahwa pembaca akan menerima informasi begitu saja.

Mungkin perlu waktu beberapa menit untuk mengecek keasliannya, tapi hal ini bermanfaat untuk memastikanmu tidak tertipu dan menyebarkan berita hoax.

***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore