
ilustrasi seseorang yang menjadikan media sosial sebagai tempat mencari validasi/ Freepik
JawaPos.com – Seseorang yang dibesarkan dengan didikan dari orang tua yang kurang memberi validasi terhadap dirinya, biasanya menunjukkan kepribadian yang kurang baik saat dewasa.
Validasi adalah hal yang dibutuhkan semua orang, tak tergantung usia. Termasuk saat anak-anak. Mereka butuh tahu bahwa sebenarnya mereka benar-benar disayangi oleh orang di sekitarnya. Namun, tak banyak orang tua yang berani memberi validasi semacam itu.
Dikutip dari Hack Spirit, inilah 7 kepribadian anak yang jarang diberi validasi saat dewasa.
Jika anda tidak menerima banyak validasi saat masih anak-anak, kemungkinan anda bergulat dengan harga diri anda saat dewasa.
Validasi bukan hanya tentang pujian. Ini adalah tentang mengakui perasaan, pikiran, dan pengalaman. Dengan validasi, Anda memberi tahu anak bahwa mereka dilihat, didengar, dan bahwa perspektif mereka penting.
Bila hal ini tidak ada, anak-anak sering kali tumbuh dengan mempertanyakan nilai mereka. Mereka mungkin merasa tidak pernah cukup baik, terlepas dari prestasi atau penghargaan yang mereka peroleh.
Bagi anak yang tumbuh tanpa validasi yang konsisten dari orang tuanya, mereka biasanya akan kesulitan mempercayai orang. Pasalnya, mereka sering kali diremehkan atau dibayangi oleh kritik.
Itu bukan rintangan mudah untuk dilewati, dan dibutuhkan waktu dan usaha sadar untuk belajar memercayai orang lain.
Dalam upaya untuk merasa diperhatikan dan dihargai, mereka yang kurang validasi mungkin berusaha keras untuk menyenangkan pasangan, teman, atau kolega mereka.
Mereka mungkin selalu mengutamakan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri, atau menyetujui pendapat yang sebenarnya tidak mereka setujui. Hal itu agar mereka mendapatkan kepercayaan dan tetap disayangi.
Bagi sebagian orang, perfeksionisme dapat berasal dari masa kecil yang kurang mendapat pengakuan. Mereka seperti sedang menjalankan misi untuk membuktikan harga diri mereka, sangat menginginkan pengakuan yang tidak pernah mereka dapatkan saat mereka masih muda.
Masalahnya, keinginan untuk menjadi sempurna ini bisa sangat menguras tenaga. Tidak peduli seberapa banyak yang mereka capai, rasanya seperti ada kekosongan yang tidak akan pernah bisa diisi.
Karena jauh di lubuk hati, mereka masih mendambakan validasi internal yang tidak pernah mereka terima.
Anak-anak yang tidak mendapatkan cukup validasi sering kali tumbuh menjadi orang dewasa yang terlalu keras pada diri mereka sendiri. Mereka sering mengkritik berlebihan pada diri sendiri meskipun orang lain tak melakukannya.
Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa kritik diri yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan risiko depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
