Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 November 2024 | 21.34 WIB

7 Kepribadian Anak yang Dibesarkan dengan Kurang Validasi Menurut Psikologi, Salah Satunya Keras pada Diri Sendiri

ilustrasi seseorang yang menjadikan media sosial sebagai tempat mencari validasi/ Freepik - Image

ilustrasi seseorang yang menjadikan media sosial sebagai tempat mencari validasi/ Freepik

JawaPos.com – Seseorang yang dibesarkan dengan didikan dari orang tua yang kurang memberi validasi terhadap dirinya, biasanya menunjukkan kepribadian yang kurang baik saat dewasa.

Validasi adalah hal yang dibutuhkan semua orang, tak tergantung usia. Termasuk saat anak-anak. Mereka butuh tahu bahwa sebenarnya mereka benar-benar disayangi oleh orang di sekitarnya. Namun, tak banyak orang tua yang berani memberi validasi semacam itu.

Dikutip dari Hack Spirit, inilah 7 kepribadian anak yang jarang diberi validasi saat dewasa.

  1. Berjuang dengan harga diri

Jika anda tidak menerima banyak validasi saat masih anak-anak, kemungkinan anda bergulat dengan harga diri anda saat dewasa.

Validasi bukan hanya tentang pujian. Ini adalah tentang mengakui perasaan, pikiran, dan pengalaman. Dengan validasi, Anda memberi tahu anak bahwa mereka dilihat, didengar, dan bahwa perspektif mereka penting.

Bila hal ini tidak ada, anak-anak sering kali tumbuh dengan mempertanyakan nilai mereka. Mereka mungkin merasa tidak pernah cukup baik, terlepas dari prestasi atau penghargaan yang mereka peroleh.

  1. Kesulitan mempercayai orang lain

Bagi anak yang tumbuh tanpa validasi yang konsisten dari orang tuanya, mereka biasanya akan kesulitan mempercayai orang. Pasalnya, mereka sering kali diremehkan atau dibayangi oleh kritik. 

Itu bukan rintangan mudah untuk dilewati, dan dibutuhkan waktu dan usaha sadar untuk belajar memercayai orang lain. 

  1. Kompensasi berlebihan dalam hubungan

Dalam upaya untuk merasa diperhatikan dan dihargai, mereka yang kurang validasi mungkin berusaha keras untuk menyenangkan pasangan, teman, atau kolega mereka. 

Mereka mungkin selalu mengutamakan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri, atau menyetujui pendapat yang sebenarnya tidak mereka setujui. Hal itu agar mereka mendapatkan kepercayaan dan tetap disayangi

  1. Kecenderungan perfeksionisme

Bagi sebagian orang, perfeksionisme dapat berasal dari masa kecil yang kurang mendapat pengakuan. Mereka seperti sedang menjalankan misi untuk membuktikan harga diri mereka, sangat menginginkan pengakuan yang tidak pernah mereka dapatkan saat mereka masih muda.

Masalahnya, keinginan untuk menjadi sempurna ini bisa sangat menguras tenaga. Tidak peduli seberapa banyak yang mereka capai, rasanya seperti ada kekosongan yang tidak akan pernah bisa diisi.

Karena jauh di lubuk hati, mereka masih mendambakan validasi internal yang tidak pernah mereka terima.

  1. Keras pada diri sendiri

Anak-anak yang tidak mendapatkan cukup validasi sering kali tumbuh menjadi orang dewasa yang terlalu keras pada diri mereka sendiri. Mereka sering mengkritik berlebihan pada diri sendiri meskipun orang lain tak melakukannya. 

Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa kritik diri yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan risiko depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore