
Ilustrasi dari toxic ke positif (pixabay)
JawaPos.com - Kita sering kali mendengar ungkapan yang tampaknya tidak berbahaya, namun sebenarnya bisa bersifat toksik.
Ungkapan-ungkapan ini sering kali muncul dalam bentuk "toxic positivity" yang justru menimbulkan ketidaknyamanan dan kesalahpahaman, memperpetuasi diskriminasi, dan berkontribusi pada ketidaksetaraan.
Kabar baiknya adalah kita memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan ini, membangun dunia yang inklusif di mana orang merasa aman untuk mengekspresikan perasaan dan perjuangan mereka. Untuk itu, kita perlu secara aktif melepaskan pernyataan-pernyataan yang merugikan ini.
Dilansir dari kanal YouTube Psych2go, Minggu (20/10), berikut adalah tujuh ungkapan toksik yang perlu kita hentikan penggunaannya.
“Kamu selalu” atau “Kamu tidak pernah”
Ungkapan ini, seperti “kamu selalu lupa mengunci pintu” atau “kamu tidak pernah peduli pada orang lain,” mengandung sifat absolut dan sering kali tidak akurat. Menggeneralisasi perilaku seseorang dapat menyebabkan kesalahpahaman dan memperkuat stereotip negatif. Sebagai gantinya, kita bisa mengatakan, “Saya perhatikan bahwa terkadang perilaku tertentu terjadi,” yang lebih terbuka dan memungkinkan untuk diskusi yang konstruktif. Ini dapat mendorong pemahaman yang lebih baik dan mengurangi ketegangan dalam komunikasi.
“Saya tidak percaya kamu sangat marah tentang ini”
Ungkapan ini dapat mengecilkan perasaan orang lain dan membuat mereka merasa seolah-olah reaksi emosional mereka tidak beralasan.
Setiap individu memiliki sensitivitas yang berbeda, dan apa yang mungkin terlihat sepele bagi satu orang bisa jadi sangat berarti bagi orang lain. Alih-alih meremehkan perasaan mereka, kita seharusnya berusaha untuk memahami sumber kemarahan tersebut.
Dengan mengakui emosi mereka dan menunjukkan empati, seperti dengan mengatakan, “Saya melihat ini sangat mengganggu kamu, saya ingin memahami dan membantumu merasa didengar,” kita membantu mereka merasa lebih valid dan diperhatikan.
“Kamu berbicara Bahasa Inggris dengan baik untuk seseorang dari [daerah tertentu]”
Meskipun pujian mungkin terdengar positif, ungkapan ini bisa terasa membatasi dan merugikan. Dengan mengaitkan kemampuan bahasa seseorang dengan asal daerah mereka, kita secara tidak sadar perpetuasi stereotip yang merugikan. Sebagai gantinya, kita bisa memberikan pujian yang lebih netral, seperti, “Bahasa Inggrismu luar biasa! Saya mengagumi wawasan yang kamu bagikan.” Ini membantu menciptakan hubungan positif tanpa mengandalkan stereotip.
“Itu hanya ada di kepalamu”
Ketika seseorang berbagi kesulitan atau perjuangan mereka, menyatakan bahwa itu “hanya ada di kepalamu” dapat terasa sangat menyakitkan. Ungkapan ini membuat orang merasa bahwa emosi mereka tidak penting. Menunjukkan empati dan pemahaman terhadap perasaan mereka jauh lebih bermanfaat. Sebagai contoh, kita bisa mengatakan, “Perasaanmu adalah hal yang valid dan saya ada di sini untukmu.” Dengan cara ini, kita memberikan dukungan emosional dan membantu mereka merasa lebih baik.
“Kamu terlalu sensitif”
Mengatakan seseorang terlalu sensitif atas perasaan mereka dapat membuat mereka merasa bahwa emosi mereka tidak berharga. Merasakan dan mengekspresikan emosi adalah bagian alami dari menjadi manusia. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan ruang yang aman di mana orang merasa nyaman berbagi tanpa penilaian. Kita bisa mengganti ungkapan ini dengan, “Saya menghargai keterbukaan dan kerentananmu; ungkapan emosimu berarti banyak bagi saya.” Ini membantu mereka merasa lebih dihargai dan diakui.
“Berhenti bertanya apakah saya baik-baik saja; semuanya baik-baik saja”
Terkadang, kita menggunakan ungkapan ini untuk menutupi perasaan kita yang sebenarnya. Namun, ungkapan pasif-agresif ini dapat membuat pasangan kita merasa tidak nyaman untuk berbicara secara terbuka tentang masalah. Sebagai gantinya, kita bisa berkata, “Saya merasa sangat kecewa, tetapi saya belum siap untuk membicarakannya.” Ini lebih jujur dan memungkinkan kita untuk tetap berkomunikasi tentang perasaan kita dengan cara yang lebih konstruktif.
“Lupakan saja” atau “Segera bangkitlah”
Ungkapan ini dapat terdengar sepele, tetapi sering kali berakibat buruk. Mereka dapat membuat orang merasa bahwa rasa sakit atau masalah mereka sepele dan mudah diatasi, yang tidak selalu benar. Rasa sakit tidak selalu hilang begitu saja; beberapa luka bisa meninggalkan bekas yang dalam. Sebagai alternatif, kita bisa menawarkan dukungan dengan mengatakan, “Saya melihat ini sangat sulit bagimu. Bagaimana saya bisa membantumu saat ini?” Ini menunjukkan bahwa kita bersedia untuk mendengarkan dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan.

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
