
Ilustrasi perempuan yang wajahnya berjerawat.
JawaPos.com - Jerawat merupakan masalah kulit yang terjadi akibat penyumbatan folikel rambut di bawah permukaan kulit. Ketika pori-pori terhalang oleh sebum dan sel-sel kulit mati, jerawat bisa muncul di wajah, punggung, dada, bahkan bahu.
Penelitian lebih lanjut diperlukan guna memahami dengan lebih jelas bagaimana stres dan jerawat saling memengaruhi, tetapi umumnya diyakini bahwa keduanya memiliki hubungan timbal balik.
Stres bisa memperburuk kondisi jerawat, dan keberadaan jerawat juga dapat menimbulkan stres emosional. Stres dapat meningkatkan produksi hormon androgen dalam tubuh.
Hormon-hormon androgen mampu merangsang kelenjar minyak dan folikel rambut yang pada gilirannya dapat memicu jerawat. Selain itu, stres juga dapat meningkatkan kadar hormon kortisol yang bisa memperparah jerawat.
Orang yang mengalami stres seringkali mengalami gangguan dalam rutinitas gaya hidup mereka, seperti tidur, pola makan, dan olahraga. Meskipun tidak menjadi penyebab langsung jerawat, kebiasaan hidup yang kurang sehat dapat berdampak negatif pada kulit dan memperburuk jerawat.
Stres juga dapat menyebabkan pengelupasan kulit yang memperparah peradangan, memicu jaringan parut, atau mengakibatkan hiperpigmentasi. Melansir verywellhealth.com, berikut ini beberapa cara mengatasi dan mencegah jerawat karena stres yang benar.
1. Antibiotik
Dalam memperlambat pertumbuhan bakteri yang memicu jerawat, biasanya digunakan obat-obatan topikal yang ditujukan untuk aplikasi langsung pada area yang terkena.
Obat ini seringkali digabungkan dengan jenis pengobatan topikal lainnya guna meningkatkan efektivitasnya. Kombinasi ini, diharapkan mampu mengurangi jumlah bakteri di permukaan kulit sekaligus membantu mengatasi penyebab utama jerawat.
Pendekatan ini menjadi penting sebab pertumbuhan bakteri yang tidak terkontrol bisa memperburuk kondisi kulit, sehingga pengobatan yang komprehensif sangat dianjurkan.
2. Benzoil peroksida
Guna membunuh bakteri yang berkontribusi terhadap timbulnya jerawat dan mungkin juga mengurangi produksi sebum, biasanya memakai berbagai jenis pengobatan.
Obat-obatan ini dirancang khusus untuk menargetkan bakteri yang menyebabkan peradangan dan infeksi pada kulit. Selain itu, beberapa obat juga mempunyai efek tambahan dalam menurunkan jumlah sebum yang dihasilkan oleh kelenjar minyak.
Dengan mengurangi bakteri dan sebum secara bersamaan, diharapkan bisa memperbaiki kondisi kulit dan mencegah munculnya jerawat yang lebih parah. Pendekatan ini penting dalam pengelolaan jerawat, sebab kedua faktor tersebut seringkali saling terkait dan berkontribusi terhadap masalah kulit yang lebih kompleks.
3. Resorsinol

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
