Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 September 2024 | 01.55 WIB

Meskipun Normal Terjadi Pada Perempuan, Inilah 3 Alasan Munculnya Stigma Terhadap Menstruasi

Ilustrasi menstruasi./(Pexels.com/MikeMurray) - Image

Ilustrasi menstruasi./(Pexels.com/MikeMurray)

JawaPos.com - Ada ketetapan yang sudah diberikan kepada perempuan dan pria tidak dapat melakukannya sama sekali, yakni hamil, melahirkan, dan menstruasi.

Bicara tentang menstruasi, meskipun hal ini normal terjadi pada perempuan tapi banyak munculnya stigma masyarakat terhadap hal tersebut sehingga menjadi sebuah ketakutan, melansir dari laman Very Well Mind inilah 3 alasannya :

1. Diskriminasi

Diskriminasi yang dialami perempuan sedang menstruasi bisa kecil atau besar, tetapi itu berbahaya terlepas dari itu lelucon ringan atau sekedar mitos.

Sebagai lelucon, stigma menstruasi terwujud dengan tuduhan bahwa seseorang sedang PMS atau menstruasi selalu berperilaku sensitif, tajam, atau agresif.

Politisi telah mengklaim bahwa orang yang sedang menstruasi tidak berfungsi dengan baik di tempat kerja, tapi sebuah gagasan itu tidak memiliki dasar dalam kenyataan.

Lebih parahnya, dalam budaya Yahudi tradisional, ketika seseorang sedang menstruasi (niddah) harus tidur terpisah dari suami karena dianggap "tidak suci" dan setelah periode itu selesai harus mandi di kolam khusus yang dikenal sebagai mikveh.

Bahkan ada stigma dan informasi yang salah seputar perlengkapan sanitasi itu sendiri, seperti anggapan bahwa menggunakan tampon atau sering kita sebut pembalut akan "mengambil" keperawanan perempuan.

2. Menganggap Tabu Tentang Obrolan Menstruasi

Ketika seseorang membutuhkan persediaan seperti pembalut, mereka biasanya meminta teman dengan nada pelan agar tidak didengar orang lain.

Bahkan hal tersebut bisa jadi "momen memalukan" yang lebih umum ketika seseorang mengalami menstruasi tanpa disadari dan berdarah melalui celananya di tempat umum.

Padahal semua itu normal dialami oleh setiap perempuan, justru ketika mereka tidak mengalami menstruasi pada usia tertentu, bisa menimbulkan bahaya pada organ reproduksinya.

3. Kurangnya Akses Terhadap Perlengkapan

Mungkin bagi warga perkotaan sangat mudah untuk mendapatkan pembalut karena tersedia diberbagai toko hingga warung kecil, tapi bagi rakyat miskin yang tinggal di pelosok itu cukup sulit.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore