Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 28 Agustus 2024 | 01.46 WIB

7 Strategi Bertahan Hidup dalam Menghadapi Keluarga Toxic Menurut Psikologi, Apa Saja?

Ilustrasi keluarga toxic (Freepik/macrovector_official) - Image

Ilustrasi keluarga toxic (Freepik/macrovector_official)

JawaPos.com - Hubungan keluarga tidak selalu indah dan menyenangkan. Terkadang, hubungan tersebut bisa sangat toxic, dan berurusan dengan keluarga toxic ini bukan berarti Anda harus memutuskan hubungan dengan mereka.

Dalam artikel ini, JawaPos.com telah melansir dari laman Ideapod, Selasa (27/8), tujuh strategi bertahan hidup yang dapat membantu Anda mengatasi dinamika keluarga yang penuh tantangan dengan lebih baik, serta didukung oleh psikologi.

1. Tetapkan batasan yang jelas

Kita sering mendengar pentingnya batasan dalam hubungan, namun jika menyangkut keluarga, ini mungkin terasa sedikit rumit.

Menurut psikologi, menetapkan batasan dapat secara signifikan mengurangi dampak dinamika keluarga toxic pada kesehatan mental.

Mulailah dengan mengidentifikasi apa yang dapat Anda terima dan apa yang tidak, kemudian komunikasikan hal ini dengan jelas dan tegas kepada anggota keluarga Anda. Mungkin terasa canggung pada awalnya, namun seiring waktu, hal ini akan terasa lebih alami.

2. Lakukan perawatan diri

Bila Anda terjebak dalam lingkungan keluarga yang toxic, mudah bagi Anda untuk melupakan kebutuhan diri Anda sendiri. Anda bahkan mungkin merasa bersalah karena meluangkan waktu untuk diri sendiri.

Menurut psikologi, saat kita melakukan perawatan diri, kita lebih siap untuk mengatasi stres dan juga dapat mencegah kejenuhan. Merawat diri sendiri bukanlah hal yang egois, ini adalah salah satu cara terbaik untuk menghadapi lingkungan keluarga yang toxic.

3. Cari bantuan profesional

Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, ini adalah tanda kekuatan, dan ini berarti Anda cukup berani untuk mengakui bahwa Anda membutuhkan dukungan.

Anda bersedia mengambil langkah-langkah menuju kesejahteraan diri Anda sendiri.

Beban berat menyangkut keluarga ini dapat mengaburkan penilaian kita, sehingga sulit melihat segala sesuatunya secara objektif, dan di sinilah peran seorang profesional. Seorang terapis atau konselor dapat menyediakan ruang aman bagi Anda untuk mengekspresikan perasaan Anda tanpa menghakimi.

4. Batasi interaksi Anda

Jika berinteraksi dengan keluarga sering membuat Anda cemas, tertekan, atau marah, mungkin sudah saatnya untuk membatasi interaksi tersebut.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore