
Ilustrasi keluarga toxic (Freepik/macrovector_official)
JawaPos.com - Hubungan keluarga tidak selalu indah dan menyenangkan. Terkadang, hubungan tersebut bisa sangat toxic, dan berurusan dengan keluarga toxic ini bukan berarti Anda harus memutuskan hubungan dengan mereka.
Dalam artikel ini, JawaPos.com telah melansir dari laman Ideapod, Selasa (27/8), tujuh strategi bertahan hidup yang dapat membantu Anda mengatasi dinamika keluarga yang penuh tantangan dengan lebih baik, serta didukung oleh psikologi.
1. Tetapkan batasan yang jelas
Kita sering mendengar pentingnya batasan dalam hubungan, namun jika menyangkut keluarga, ini mungkin terasa sedikit rumit.
Menurut psikologi, menetapkan batasan dapat secara signifikan mengurangi dampak dinamika keluarga toxic pada kesehatan mental.
Mulailah dengan mengidentifikasi apa yang dapat Anda terima dan apa yang tidak, kemudian komunikasikan hal ini dengan jelas dan tegas kepada anggota keluarga Anda. Mungkin terasa canggung pada awalnya, namun seiring waktu, hal ini akan terasa lebih alami.
2. Lakukan perawatan diri
Bila Anda terjebak dalam lingkungan keluarga yang toxic, mudah bagi Anda untuk melupakan kebutuhan diri Anda sendiri. Anda bahkan mungkin merasa bersalah karena meluangkan waktu untuk diri sendiri.
Menurut psikologi, saat kita melakukan perawatan diri, kita lebih siap untuk mengatasi stres dan juga dapat mencegah kejenuhan. Merawat diri sendiri bukanlah hal yang egois, ini adalah salah satu cara terbaik untuk menghadapi lingkungan keluarga yang toxic.
3. Cari bantuan profesional
Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, ini adalah tanda kekuatan, dan ini berarti Anda cukup berani untuk mengakui bahwa Anda membutuhkan dukungan.
Anda bersedia mengambil langkah-langkah menuju kesejahteraan diri Anda sendiri.
Beban berat menyangkut keluarga ini dapat mengaburkan penilaian kita, sehingga sulit melihat segala sesuatunya secara objektif, dan di sinilah peran seorang profesional. Seorang terapis atau konselor dapat menyediakan ruang aman bagi Anda untuk mengekspresikan perasaan Anda tanpa menghakimi.
4. Batasi interaksi Anda
Jika berinteraksi dengan keluarga sering membuat Anda cemas, tertekan, atau marah, mungkin sudah saatnya untuk membatasi interaksi tersebut.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
