
Ilustrasi tindakan KDRT.
JawaPos.com - Semakin banyaknya isu rumah tangga saat ini, mulai dari perselingkuhan hingga KDRT bahkan ada yang mengalami keduanya bersamaan.
Pelaku KDRT ini didominasi oleh kaum pria dan perempuanlah yang banyak menjadi korban, dengan sangat mudahnya mereka memukul dan berkata kasar pada istri didepan anak-anaknya.
Kejadian tersebut bukan hanya menimbulkan trauma pada istri, melainkan juga anak yang nantinya akan menganggu kesehatan mental mereka.
Mengutip dari laman Komnas Perempuan pada (17/08) mencatat sejak 2001 hingga saat ini, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terus menjadi data tertinggi yang dilaporkan.
Laporan 21 Tahun Catatan Tahunan, tercatat 2.5 juta kekerasan di ranah personal. Di antaranya kekerasan terhadap istri (KTI) yang paling banyak dilaporkan yaitu 484.993 kasus dan kekerasan terhadap anak perempuan (KTAP) yang dilakukan oleh anggota keluarga menjadi urutan ketiga sebanyak 17.097 kasus.
Sungguh hal yang menyedihkan sehingga banyak sekali efek jangka panjangnya bagi kehidupan keluarga saat ini. Perempuan yang ketakutan untuk menikah hingga trauma anak yang membekas hingga ia dewasa.
Namun sampai saat ini belum ada suatu cara untuk mencegah perilaku KDRT tersebut, dan bertanya-tanya apakah pelaku KDRT bisa sembuh dan berubah?
Melansir dari laman Klik Dokter, bahwa kontruksi sosial politik sistem patriarki yang mendarah daging selama ribuan tahun membuat pelaku KDRT sulit menyembuhkan dan merubah kebiasaan buruk mereka.
Bahkan perilaku kekerasan itu tidak dapat murni dihilangkan melalui metode psikoterapi ataupun konseling, karena mereka melihat tindakan itu sebagai produk dari trauma masa lalu atau masalah yang sedang dialami.
Banyak pria pelaku KDRT melakukan kekerasan secara sadar karena didorong pemahaman terkait hak serta kedudukannya sebagai pria yang selama ini diuntungkan oleh sistem patriarki.
Terutama sistem patriarki di Indonesia ini yang tidak adanya keseteraan gender dan seringkali menuntut banyak terhadap perempuan.
Mengutip dari laman Artikel CintaLia, jika sudah terlanjur menjadi korban KDRT, harus dihadapi dengan cara komunikasi terlebih dulu, beritahu orang terdekat, lakukan pemeriksaan visum, serta langkah terakhir jika semuanya benar-benar sulit disembuhkan adalah bercerai.
Meskipun perpisahan dalam rumah tangga itu menyakitkan, tapi dengan adanya pelaku KDRT yang sulit berubah dan disembuhkan, maka perceraian adalah solusi terbaiknya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
