
Ilustrasi suami istri/(Unsplash.com/ReedNaliboff)
JawaPos.com - Dalam menjalani pernikahan, setiap pasangan suami istri pasti ingin membangun keluarga yang harmonis, bahagia, serta berkecukupan baik secara lahir maupun batin.
Harapan-harapan tersebut sering kita bayangkan sejak sebelum pernikahan itu tiba, setiap calon suami atau istri ingin berlaku sempurna didepan pasangan dan keluarganya.
Tidak ada salahnya jika kita ingin berusaha untuk menjadi suami dan istri yang layak, tapi sebaiknya jangan tenggelam dalam harapan yang dinilai kurang realistis.
Mengutip dari laman Artikel Pranikah, harapan yang dinilai kurang realistis pada istri adalah menekan dirinya untuk menjadi istri ideal, seperti mampu mengurus rumah tangga, mengasuh anak, melayani suami, sekaligus sukses dalam karier.
Mungkin beberapa perempuan mampu melakukannya dengan baik, tapi banyak juga dari mereka yang gagal, biasanya ada saja hal yang perlu dikorbankan.
Misalnya ketika karier tersendat, tapi mampu mengurus rumah tangga, suami, dan anak dengan baik.
Sebaliknya jika kariernya naik, maka urusan suami, anak, serta rumah tangganya terbengkalai bahkan menimbulkan beberapa masalah.
Perlu diketahui bahwa harapan istri yang ingin menjadi super women, tidak selalu membuat suaminya bahagia. Beberapa suami justru mengeluh karena merasa kurang dihargai dan tidak dibutuhkan.
Istri yang memiliki tuntutan tersendiri juga cenderung bersikap tegang dan perfeksionis, sehingga sulit adanya toleransi terhadap kesalahan-kesalahan kecil termasuk yang dilakukan suaminya.
Sementara harapan yang dinilai kurang realistis pada suami adalah ingin menjadi suami ideal, artinya sukses dalam karier, mampu membantu orang tua, serta menjadi ayah sekaligus suami yang baik.
Kemudian hal yang sering terjadi adalah ketika harapan suami dan istri itu berbeda, misalnya saat suami berharap pasangannya pandai, enak diajak ngobrol, cantik, dan mampu melayaninya dengan penuh pengabdian.
Sedangkan harapan istri terhadap suami adalah ingin mendapatkan suami yang sukses, romantis, memahami perasaannya, dan ikut serta dalam pengasuhan anak.
Harapan-harapan inilah yang biasanya menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga, terlebih saat kita mengetahui karakter asli pasangan setelah menikah.
Melansir dari laman Artikel Kanal Psikologi UGM, persiapan menuju pernikahan yang sehat adalah kita harus mengontrol ekspektasi atau harapan yang realistis untuk menghindari kekecewaan.
Perlu disadari bahwa kebahagiaan itu bukan dicari melainkan diciptakan, dengan memiliki harapan yang realistis, pasangan dapat lebih mudah menerima kekurangan dan kelemahan satu sama lain, serta bekerja sama untuk mencapai kebahagiaan sejati.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
