Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Agustus 2024 | 21.20 WIB

Ternyata Harapan Antara Suami dan Istri yang Dinilai Kurang Realistis dalam Menjalani Pernikahan, Simak Penjelasannya

Ilustrasi suami istri/(Unsplash.com/ReedNaliboff) - Image

Ilustrasi suami istri/(Unsplash.com/ReedNaliboff)

JawaPos.com - Dalam menjalani pernikahan, setiap pasangan suami istri pasti ingin membangun keluarga yang harmonis, bahagia, serta berkecukupan baik secara lahir maupun batin.

Harapan-harapan tersebut sering kita bayangkan sejak sebelum pernikahan itu tiba, setiap calon suami atau istri ingin berlaku sempurna didepan pasangan dan keluarganya.

Tidak ada salahnya jika kita ingin berusaha untuk menjadi suami dan istri yang layak, tapi sebaiknya jangan tenggelam dalam harapan yang dinilai kurang realistis.

Mengutip dari laman Artikel Pranikah, harapan yang dinilai kurang realistis pada istri adalah menekan dirinya untuk menjadi istri ideal, seperti mampu mengurus rumah tangga, mengasuh anak, melayani suami, sekaligus sukses dalam karier.

Mungkin beberapa perempuan mampu melakukannya dengan baik, tapi banyak juga dari mereka yang gagal, biasanya ada saja hal yang perlu dikorbankan.

Misalnya ketika karier tersendat, tapi mampu mengurus rumah tangga, suami, dan anak dengan baik.

Sebaliknya jika kariernya naik, maka urusan suami, anak, serta rumah tangganya terbengkalai bahkan menimbulkan beberapa masalah.

Perlu diketahui bahwa harapan istri yang ingin menjadi super women, tidak selalu membuat suaminya bahagia. Beberapa suami justru mengeluh karena merasa kurang dihargai dan tidak dibutuhkan.

Istri yang memiliki tuntutan tersendiri juga cenderung bersikap tegang dan perfeksionis, sehingga sulit adanya toleransi terhadap kesalahan-kesalahan kecil termasuk yang dilakukan suaminya.

Sementara harapan yang dinilai kurang realistis pada suami adalah ingin menjadi suami ideal, artinya sukses dalam karier, mampu membantu orang tua, serta menjadi ayah sekaligus suami yang baik.

Kemudian hal yang sering terjadi adalah ketika harapan suami dan istri itu berbeda, misalnya saat suami berharap pasangannya pandai, enak diajak ngobrol, cantik, dan mampu melayaninya dengan penuh pengabdian.

Sedangkan harapan istri terhadap suami adalah ingin mendapatkan suami yang sukses, romantis, memahami perasaannya, dan ikut serta dalam pengasuhan anak.

Harapan-harapan inilah yang biasanya menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga, terlebih saat kita mengetahui karakter asli pasangan setelah menikah.

Melansir dari laman Artikel Kanal Psikologi UGM, persiapan menuju pernikahan yang sehat adalah kita harus mengontrol ekspektasi atau harapan yang realistis untuk menghindari kekecewaan.

Perlu disadari bahwa kebahagiaan itu bukan dicari melainkan diciptakan, dengan memiliki harapan yang realistis, pasangan dapat lebih mudah menerima kekurangan dan kelemahan satu sama lain, serta bekerja sama untuk mencapai kebahagiaan sejati.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore