Ilustrasi wanita elegan. (freepik/lookstudio)
JawaPos.com - Ada perbedaan besar antara sekadar menggunakan media sosial dan menggunakannya dengan bijak.
Perbedaannya adalah tentang persepsi. Wanita bernilai tinggi, mereka yang percaya diri, sadar diri, dan sukses, tahu bahwa apa yang mereka unggah di media sosial dapat menunjukkan banyak hal tentang karakter mereka.
Mereka tidak hanya membagikan apa saja dan segalanya. Sebaliknya, mereka selektif, karena mereka tahu bahwa unggahan mereka membentuk bagaimana orang lain memandang mereka.
Wanita yang bernilai tinggi adalah penguasa dari citra media sosial mereka, menjaga hal-hal tertentu dari feed mereka sepenuhnya. Berikut 5 hal yang tak pernah diposting wanita bernilai tinggi di media sosial, dikutip dari ideapod;
1) Drama pribadi
Media sosial mungkin merupakan sebuah platform untuk berbagi, tapi ini bukanlah tempat untuk mengumbar masalah pribadi. Sangat menggoda untuk melampiaskan atau mencari validasi secara online saat ada masalah, tetapi wanita yang bernilai tinggi memahami implikasinya.
Mereka tahu bahwa memposting tentang drama pribadi mereka dapat dianggap sebagai tindakan mencari perhatian, tidak dewasa, dan tidak profesional. Dan jujur saja, hal ini jarang sekali menyelesaikan masalah.
Sebaliknya, mereka memilih untuk menangani masalah mereka secara offline, dengan bermartabat dan bijaksana.
2) Mengeluh tentang pekerjaan
Kita semua pernah mengalami hari-hari di mana segala sesuatu di tempat kerja tampak tidak beres. Komputer rusak, suasana hati bos sedang tidak baik, dan mesin kopi rusak. Keinginan untuk curhat di media sosial bisa sangat besar.
Saya ingat suatu hari ketika saya sedang mengerjakan beberapa tenggat waktu dan laptop saya memutuskan untuk memperbarui di saat yang paling tidak tepat. Saya merasa frustrasi dan ingin membagikan 'hari terburuk yang pernah ada' kepada dunia.
Namun kemudian saya teringat akan sesuatu yang penting - kehadiran online Anda mencerminkan citra profesional Anda. Para wanita yang bernilai tinggi mengetahui hal ini dan menghindari kata-kata kasar yang berhubungan dengan pekerjaan di media sosial.
Mereka memahami bahwa calon pemberi kerja, klien, atau kolega mungkin akan melihat unggahan ini dan mempertanyakan profesionalisme dan sikap mereka terhadap pekerjaan.
3) Materialisme yang berlebihan

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
