Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 April 2023 | 19.48 WIB

Panduan Kerja Sama Vloger dan Pemilik Usaha: Observasi Engagement, Kesepakatan Kolaborasi Harus Jelas

Ilustrasi vloger. - Image

Ilustrasi vloger.

Transformasi digital memunculkan beberapa profesi baru yang turut meramaikan kegiatan pemasaran digital. Berawal dari web blogger di era awal 2000-an hingga merambah menjadi penulis atau reviewer di media sosial dan vloger (bloger video).

---

AKHIRNYA, berkembanglah istilah profesi food vlogger, travel vlogger, hingga beauty vlogger yang mendapatkan fee dari memberi review sebuah produk. Ada pula profesi yang disebut influencer (key opinion leader/KOL) dan endorser yang tak jauh berbeda kinerjanya.

Sepekan ini jagat maya diwarnai viralnya curhat seorang food vlogger yang merasa tidak dihargai pemilik rumah makan. Dan, justru menunjukkan jumlah followers-nya yang dia yakini penting dan mampu meningkatkan branding serta penjualan. Hal itu dinilai netizen tidak etis. Sebab, tidak ada kerja sama sebelumnya. Bagaimanapun, dalam sebuah bisnis, kerja sama itu penting.

Lantas, bagaimana cara kerja seorang vloger atau KOL? Apakah memang mereka dapat melakukan keputusan review dan mendapatkan privilege bonus produk yang di-review secara sepihak? Adakah ketentuan membayar seorang vloger yang mengajukan dirinya untuk me-review tanpa diminta? Sebelum menjawab pertanyaan itu, baiknya kita mengenal karakteristik berbagai profesi digital creator reviewer dan advertiser.

Seorang food vlogger akan me-review makanan yang dikonsumsi. Beauty vlogger akan me-review produk kecantikan. Sementara itu, travel vlogger akan me-review lokasi yang dikunjunginya. Tujuannya, penonton/pembaca memiliki informasi lebih tentang suatu produk, menarik minat mereka, dan mengajak untuk membeli atau datang ke tempat yang di-review.

Jadi, menjadi bloger atau vloger harus menguasai spesifikasi khusus dalam membahas produk tertentu. Mereka bisa me-review sebuah produk menjadi konten dengan sukarela atau dengan fee yang sudah disepakati kedua belah pihak. Fee yang ditentukan biasanya berdasar kemampuan me-review dan mengelola konten menjadi menarik, jumlah followers, dan engagement rate yang dihasilkan (jumlah rata-rata reaksi yang diberikan ke posting-an dari followers maupun non-followers).

Berbeda dengan influencer (KOL dan endorser). Dua profesi itu murni mengerjakan job promo order berdasar keinginan dari pemilik produk. Penentu fee influencer dan endorser juga dipengaruhi jumlah followers, engagement rate, dan impresi yang bisa diperoleh karena reputasi mereka. Influencer yang sudah memiliki tim produksi biasanya memiliki rate card yang jelas dan hasil konten yang diproduksi juga lebih bagus dan kreatif.

Endorser tidak melulu dari seorang selebgram atau KOL. Bisa pula dari public figure di bidang tertentu dengan banyak follower, kenalan sosialita yang punya relasi luas, atau teman sendiri yang mau membantu untuk mempromosikan produk. Endorser biasanya tidak memiliki rate yang jelas. Hanya berdasar kesepakatan bersama. Ada bahkan endorser yang bisa dibayar dengan produk saja, semua bergantung kesepakatan.

Scope of Work

Pemilihan bloger atau KOL sepenuhnya ada di tangan pengguna jasa. Yang perlu diperhatikan pemakai jasa bloger, influencer, atau endorser adalah menyiapkan scope of work (SOW) yang jelas. Artinya, pemakai jasa harus menjelaskan dengan detail apa saja yang harus dilakukan bloger/influencer. Kedua, menanyakan rate card (fee) yang jelas.

Rate card biasanya sudah mewakili durasi tayang sebuah konten, kemampuan influencers dalam menarik viewers, dan menambah followers pengiklan. Namun, yang harus diperhatikan, tidak ada bloger atau influencer mana pun yang memberikan jaminan target hasil penjualan. Hal itu harus dipahami pengiklan sehingga pengiklan dapat menghitung biaya yang dikeluarkan dan risiko yang dihadapi jika ternyata penggunaan influencers tidak mengangkat penjualan.

Engagement Rate

Selanjutnya, observasi engagement rate (ER) yang dimiliki bloger/influencer agar tidak memilih influencer yang zonk. Followers sebuah influencer bisa jadi banyak, tetapi bila tingkat respons dan impresi rendah, hasil iklan menjadi tidak maksimal. Pengiklan dapat mencari ER influencers cukup dengan googling karena biasanya data ER adalah data umum yang disediakan situs pencari influencers.

Bagaimana bila Me-Review atas Inisiatif Sendiri?

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore