Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 Juni 2024 | 01.00 WIB

Orang yang Oversharing Berindikasi Penyakit Mental dan Menderita ADHD? Berikut Penjelasannya

Ilustrasi orang yang oversharing./Unsplash.com/LinkedInSalesSolutions) - Image

Ilustrasi orang yang oversharing./Unsplash.com/LinkedInSalesSolutions)

JawaPos.com - Oversharing merupakan perilaku seseorang yang berbicara terlalu banyak atau terlalu detail tentang dirinya dan kehidupan pribadinya kepada orang lain.

Orang yang oversharing biasanya ditandai dengan berbicara dengan orang tak dikenal, memposting foto atau cerita yang sangat pribadi ke media sosial, bicara terlalu banyak tentang seksual dan masalah keluarga.

Dilansir dari laman Tazkia, oversharing bisa menjadi masalah karena dapat orang lain tidak nyaman atau tidak aman dalam berbicara dengan orang bersangkutan.

Selain itu, oversharing juga bisa menimbulkan dampak negatif pada kesehatan mental. Terlalu banyak membagikan informasi pribadi di media sosial, bisa membuat seseorang merasa terpapar banyak opini dan perbandingan sosial.

Sehingga dapat memicu perasaan tidak berharga atau tidak memadai. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk lebih cermat memilih waktu, tempat, dan orang yang dipilih untuk bercerita.

Dikutip dari laman Psychologs, oversharing juga berkaitan dengan masalah yang terjadi oleh penderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

ADHD adalah gangguan kesehatan mental yang disebabkan perkembangan saraf. Kondisi ini mencakup masalah, seperti hiperaktif, kesulitan memperhatikan, dan perilaku impulsif.

Dilansir dari laman Ciputra Medical Center, orang dewasa yang mengalami ADHD seringkali hiperaktif atau oversharing, berperilaku impulsif, cemas, dan sulit fokus.

Namun penderita ADHD seringkali melakukannya dengan tidak sengaja, terkadang mereka mungkin tak menyadari bahwa telah salah berbicara, dan memberikan informasi yang berlebihan.

Orang yang oversharing bisa saja sebagai strategi mengatasi emosi atau pengalaman yang tidak menyenangkan. Sehingga mereka butuh dukungan sosial dari orang lain.

Serupa dengan hal itu, mereka juga mungkin sedang berjuang dengan penyakit mental seperti depresi atau kecemasan. Oleh karenanya, dengan cara curhat bisa sedikit mengobati luka mereka.

Tapi perlu diperhatikan bahwa tidak semua orang yang mendengar cerita kita dapat meresponnya dengan baik, bahkan ada juga yang menjelek-jelekkan di belakang.

Maka bagi orang yang oversharing disarankan untuk berpikir lebih dulu dalam berbicara atau posting sesuatu di media sosial, apalagi jejak digital itu tak bisa dihapus dan bisa berdampak negatif di masa depan.

Jika butuh curhat untuk meluapkan perasaan, lebih baik mencari orang profesional seperti psikolog, psikiater, atau konselor. Hal ini bisa efektif dalam mengendalikan oversharing.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore