Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 Mei 2024 | 05.00 WIB

Sering Menyembunyikan Ketidaksempurnaan, Berikut Sisi Lain Remaja Saat Menggunakan Media Sosial

Ilusrasi Menggunakan Media Sosial (Adobe Stock) - Image

Ilusrasi Menggunakan Media Sosial (Adobe Stock)

JawaPos.com- Usia remaja memang masa-masa yang rentan terhadap tekanan emosional. Meski mereka sudah mengerti tentang media sosial, namun secara emosional terhadap kemungkinan terburuk dari media sosial belum tahu sepenuhnya.

Fenomena media sosial dan remaja didukung dengan adanya artikel dari Child Mind Institute. Mereka memberikan contoh seorang gadis remaja sekolah menengah pertama, Shasa (16), yang sedang menelusuri feed instagramnya secara perlahan. Dia menunjukkan gadis cantik, kucing luci, hingga orang-orang yang sedang jalan-jalan ke pantai. Semuanya terlihat menjalani hari terbaik sepanjang waktu. 

Menurut Child Mind Institut yang dikutip oleh JawaPos.com, Jumat (10/5), bahwa media sosial sama halnya dengan sebuah majalah dan periklanan yang menjunjung standar kesuksesan dan kecantikan yang tidak realistis. Namun standar tersebut diidealkan oleh banyak orang.

Sehingga dengan kondisi sosial yang demikian, remaja dapat mengatur kehidupan mereka. Feed yang dihasilkan terlihat seperti highlight reel, hanya menampilkan momen-momen terbaik dan paling patut ditiru sambil menyembunyikan upaya, perjuangan, dan aspek-aspek biasa dari kehidupan sehari-hari. Dan ada bukti bahwa gambar-gambar tersebut menyebabkan penderitaan bagi banyak remaja.

  1. Menyembunyikan ketidaksempurnaan

Bagi remaja yang mengalami kecemasan atau depresi, postingan media sosial yang diedit dengan cermat. Menutupi masalah serius di balik kepura-puraan kesempurnaan dan mempersulit orang tua atau teman untuk melihat bahwa mereka membutuhkan bantuan.

“Penting untuk diingat bahwa hanya memposting gambar yang sudah diedit secara online atau berpura-pura bahwa hidup Anda sedikit lebih glamor dari yang sebenarnya, tidak dengan sendirinya menjadi masalah,” kata Jill Emanuele, PhD, Direktur Senior Mood Disorders Center di Child Mind Institute.

“Media sosial saja tidak mungkin menjadi penyebab utama permasalahan ini, namun media sosial dapat membuat situasi yang sulit menjadi semakin sulit,” tambahnya.

Remaja yang telah menciptakan persona online yang ideal mungkin merasa frustrasi dan tertekan karena kesenjangan antara siapa mereka yang berpura-pura dan siapa mereka sebenarnya.

  1. Kesempurnaan orang lain

Masalah lain yang lebih umum, kata Dr. Emanuele, adalah bahwa bagi sebagian remaja, media sosial mereka dapat menjadi bahan bakar bagi perasaan negatif yang mereka miliki terhadap diri mereka sendiri. Anak-anak yang berjuang dengan keraguan diri membaca gambar teman-temannya tentang apa yang mereka rasa kurang.

“Anak-anak memandang media sosial melalui kacamata kehidupan mereka sendiri,” kata Dr. Emanuele.

“Jika mereka kesulitan untuk tetap menjadi yang terdepan atau merasa rendah diri, mereka cenderung menafsirkan gambaran teman-temannya sedang bersenang-senang sebagai konfirmasi bahwa kinerja mereka buruk dibandingkan dengan teman-temannya,” lanjutnya.

  1. Sulit untuk ditolak

Sasha dan temannya Jacob,15, setuju bahwa terus-menerus terpapar media sosial berdampak pada cara mereka memandang teman sebaya dan diri mereka sendiri. 

“Sepertinya kamu tahu itu tidak membuatmu bahagia, mengacu pada foto-foto yang diposting temannya di Instagram. Tapi kamu masih melihat," kata Jacob

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore