
Platform Media Sosial Memungkinkan Dapat Memunculkan Perasaan Kesepian./ Sumber Foto : Mikoto.Raw Photographer/Pexels.com
JawaPos.com - Pada era digital, platform media sosial telah merevolusi cara kita terhubung, berbagi, dan berinteraksi satu sama lain.
Meski berbagai platform ini menjanjikan konektivitas yang tak tertandingi, ternyata beberapa penelitian menghasilkan bukti lain.
Bukti tersebut yaitu platform media sosial mungkin berkontribusi pada rasa kesepian yang meluas.
Lantas, seperti apakah rasa kesepian itu?.
Dikutip dari positivepsych.edu.sg, kesepian mungkin tampak seperti pengalaman umum yang terjadi saat kita sendirian. Namun, definisi kesepian dan penyebabnya tidaklah sesederhana itu.
Kesepian adalah pengalaman emosional dan psikologis yang kompleks yang ditandai dengan perasaan terisolasi dan perasaan hampa atau keterputusan sosial yang mendalam.
Artinya, seseorang bisa merasa sendirian meski dikelilingi orang banyak atau tinggal berdekatan dengan orang lain. Oleh sebab itu, semua didasarkan pada evaluasi diri sendiri terhadap keadaan.
Perlu diketahui, kesepian dapat menyerang siapa saja tanpa memandang situasi sosialnya. Interpretasi subjektif ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Di antaranya, ciri kepribadian, pengalaman hidup, dan kondisi psikologis.
Baca Juga: 6 Tips Berhenti Kepo dengan Media Sosial Mantan, Coba Terapkan Perlahan-lahan
Nah, seseorang yang introvert dan ekstrovert mungkin memiliki kebutuhan dan preferensi yang berbeda dalam interaksi sosial, sehingga memengaruhi persepsi mereka tentang kesepian.
Selanjutnya, apakah media sosial juga berdampak pada kesepian? Menjelajahi dampak media sosial terhadap kesepian menunjukkan adanya hubungan yang kompleks.
Beberapa skenario yang menggambarkan potensi penggunaan media sosial dalam berkontribusi terhadap kesepian ada 7 poin. Simak penjelasan berikut ini.
1. Budaya Membandingkan Sesuatu Hal
Platform media sosial penuh dengan peluang untuk melakukan perbandingan. Contohnya, melihat orang lain mem-posting tentang pencapaian, pertemuan sosial, atau gaya hidup yang tampaknya sempurna dapat membuat seseorang merasa tidak mampu atau tersisih. Hal inilah yang dapat menimbulkan perasaan kesepian dan terisolasi.
2. Interaksi Hanya di Tingkat Permukaan
Meski media sosial memungkinkan adanya konektivitas secara terus menerus, interaksi yang dipupuknya seringkali hanya bersifat dangkal. Kurangnya percakapan yang mendalam dan bermakna dapat membuat individu merasa terputus meskipun “terhubung” secara online.
Baca Juga: Orang yang Terlalu Mementingkan Jumlah Likes di Media Sosial Biasanya Memiliki 8 Ciri Kepribadian Berikut
3. Kuantitas Melebihi Kualitas
Penekanan pada jumlah teman atau followers (pengikut) dapat mengurangi pentingnya membina hubungan berkualitas tinggi. Fokus pada kuantitas dibandingkan kualitas juga dapat menghasilkan jaringan ikatan yang lemah, sehingga berkontribusi terhadap rasa kesepian.
4. Mengurangi Interaksi Tatap Muka
Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyita waktu yang dihabiskan untuk melakukan interaksi tatap muka. Padahal, interaksi secara tatap muka sangat penting untuk membangun hubungan yang kuat dan saling mendukung. Tidak adanya kehadiran fisik dan isyarat non-verbal dapat menciptakan perasaan terisolasi.
5. Takut Ketinggalan atau FOMO
Media sosial seringkali menyoroti aspek paling menarik dalam kehidupan seseorang, sehingga membuat orang lain merasa kehilangan pengalaman dan koneksi. Hal ini juga dapat memicu timbulnya perasaan kesepian.
Pada skenario ini kita sering menyebut sebagai Fear of Missing Out atau FOMO. Yaitu, sebuah perasaan cemas dan takut yang timbul di dalam diri seseorang akibat ketinggalan sesuatu (berita, tren, dan hal lainnya).
Baca Juga: 8 Hal yang Tak Pernah Diposting oleh Orang Bervalue Tinggi di Media Sosial, Foto Selfie Jadi Salah Satunya
6. Adanya Ruang Gema Online
Algoritma media sosial dapat menciptakan ruang gema dan individu hanya dihadapkan pada sudut pandang yang serupa dengan mereka. Hal ini dapat membatasi keberagaman interaksi dan mempersulit Anda merasakan hubungan yang tulus dengan komunitas yang lebih luas.
7. Masalah Privasi dan Kepercayaan
Kekhawatiran terhadap privasi dan keaslian persona online dapat menghambat pengembangan kepercayaan dalam hubungan online. Adanya ketakutan bahwa interaksi online kurang tulus juga dapat berkontribusi terhadap munculnya rasa kesepian. ***

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
