Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Januari 2024 | 00.28 WIB

Efek Mudahnya Akses Internet, Orang Indonesia Tak Bisa Lepas dari Ponsel

ASYIK SENDIRI: Meski satu ruangan, tiga pengunjung kedai kopi ini tenggelam dalam dunia yang tersaji dari layar gawai masing-masing pada Rabu (24/1) lalu. - Image

ASYIK SENDIRI: Meski satu ruangan, tiga pengunjung kedai kopi ini tenggelam dalam dunia yang tersaji dari layar gawai masing-masing pada Rabu (24/1) lalu.

State of Mobile 2024 yang hasil riset data.ai sepanjang 2023 menempatkan Indonesia pada peringkat pertama negara pengguna mobile phone dengan durasi terlama. Namun, apakah screen time yang tinggi itu berbanding lurus dengan kebermanfaatannya?

DEVIE Rahmawati, peneliti sosial dari Universitas Indonesia, mengatakan bahwa konsumsi digital masyarakat melonjak tajam sejak pandemi. ”Kenapa? Karena kita semua mendadak digital. Kondisi yang mengharuskan kita lebih banyak di rumah membuat konsumsi digital naik signifikan,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos pada Kamis (25/1) lalu.

Pernyataan Devie selaras dengan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Pada 2018 pengguna internet tercatat 171,17 juta. Angkanya menjadi 196,71 juta pada 2019–2020, saat pandemi melanda. Angkanya terus merangkak naik hingga 215,63 juta tahun lalu.

Terkait laporan State of Mobile 2024, Devie menyebutkan bahwa 6 dari 10 orang Indonesia adalah generasi Z dan milenial dengan rentang usia 14–43 tahun. ”Artinya, merekalah penghuni utama ruang digital,” ungkapnya.

Semakin muda usianya, keluangan waktunya semakin banyak. Maka, semakin luas pula yang digali di internet. Namun, itu tidak berlaku untuk balita dan kanak-kanak. Psikolog Putu Andani menegaskan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak menyarankan bocah berusia 1 tahun ke bawah mengakses gawai. Sedangkan screen time anak berusia 2–4 tahun tidak boleh lebih dari 1 jam sehari.

”Di luar usia tersebut, screen time dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak. Namun, kegiatan fisik serta interaksi dua arah tetap diutamakan,” papar Putu.

Terkait kualitas screen time itu, Devie mengingatkan para orang tua bahwa anak dan remaja perlu pendampingan. ”Orang tua yang pegang dan kasih tiket (izin menggunakan gadget, Red). Jadi harus bijak dalam mengawasi durasi dan kualitas tontonan anak,” tuturnya.

Jika berlebihan, screen time membawa dampak serius pada aspek fisiologis dan sosiologis. Dampak fisiknya adalah gangguan kesehatan. Sedangkan dampak sosialnya adalah kondisi mental dan sensitivitas generasi Z dan milenial. ”Karena terlalu sering hidup di ruang digital, mereka jadi suka membanding-bandingkan dirinya dengan yang lain. Mereka jadi mudah baper,” kata Devie.

Laporan State of Mobile 2024 menempatkan TikTok dan Instagram sebagai genre media sosial (medsos) yang paling sering dipelototi lewat ponsel. ”Di medsos sebenarnya tidak ada hal spesifik yang ingin dicari. Adiktif saja rasanya scrolling video-video pendek di TikTok dan di IG,” ujar Putri Mareta Sari.

Devie Rahmawati.

Sekali mengakses internet lewat ponselnya, perempuan 30 tahun itu bisa menghabiskan waktu sampai 4 jam. Durasi tersebut bertambah saat weekend. Putri mengaku pernah sampai 12 jam menghadap layar ponsel pada suatu akhir pekan. Tapi, dia juga sempat kepayahan gara-gara baper melihat unggahan teman-teman di dunia maya. Dia lantas memutuskan untuk logout dari semua akun medsosnya selama satu bulan.

Lain Putri, lain pula Ryan Pradipta. Lelaki asal Jogja itu bisa menghabiskan waktu hingga 15 jam di depan gawai. ”Karena saya ini part time designer, tapi full time gamer,” ujarnya berkelakar. Sehari-hari dia menggunakan dua ponsel untuk bekerja, melakoni hobi, dan bersosialisasi. Selain itu, dia masih dibantu satu set PC dan satu laptop.

Pekerjaan Ryan yang sifatnya remote membuat dia sangat lekat pada gawai. ”Di situ pasti mixed use ya. Kadang dilakukan lewat laptop, tapi untuk cek segala notifikasi tetap via mobile,” terangnya.

Saat tidak bekerja pun, hiburan Ryan adalah game online. Apalagi, dia aktif di platform Discord sebagai salah satu admin. Membalas ratusan chat dari anggota komunitas biasa dia lakukan sehari-hari. ”Itu kenapa HP selalu stand by bisa dibilang hampir 24/7,” tegasnya. Namun, intensitas yang tinggi itu tidak pernah membuat Ryan sampai stres. (agf/c9/hep)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore