
MEMBEKAS: Anak cenderung mengadopsi cara sama yang dilakukan orang tuanya. Menyaksikan ortu KDRT berdampak pada pasikis anak, mudah cemas, insecure, hingga sulit membangun relasi yang sehat.
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) berdampak buruk bagi perkembangan mental, sosial, dan emosional anak. Anak korban KDRT juga berisiko besar jadi pelaku maupun korban kekerasan saat dewasa. Treatment yang tepat dapat membantu memulihkan kondisi mentalnya.
---
ORTU perlu menyadari keberadaan anak yang bisa menyaksikan pertengkaran mereka. Apalagi, sampai ada kekerasan yang dilakukan atau KDRT. Meski masih kecil, anak dapat merasakan ada yang tidak beres.
”Bahkan, usia bayi yang belum bisa berinteraksi dan dianggap belum mengerti itu, ketika terpapar pertengkaran ortu atau melihat KDRT, bisa terdampak juga,” ungkap Amalina Salsabil MPsi Psikolog.
Biasanya dalam pertengkaran disertai umpatan dan hardikan dengan nada tinggi. Pada bayi, hal itu bisa memengaruhi kemampuan berbahasanya. Dampaknya, terlambat bicara, gagap, takut, bahkan tidak mau ngomong sama sekali atau kosakatanya sedikit.
”Mereka juga bisa jadi kehilangan kemampuan yang sebelumnya dikuasai. Misal, usia 5 tahun toilet training-nya sudah bagus, jadi balik ngompolan. Kayak mundur lagi perkembangannya,” jelas psikolog klinis anak dan remaja itu.
Dia menyebut dampak yang dirasakan tiap anak bisa berbeda bergantung usianya. Yang pasti, secara psikis mereka akan mengalami gangguan stres pascatrauma. Menjadi mudah cemas, panik, pesimistis, pola tidur dan makan berubah, serta beberapa muncul perilaku agresi.
”Pada anak usia sekolah, mereka mengembangkan sikap antisosial, menarik diri dari lingkungan, tidak pede, bahkan muncul perlawanan atau terlibat perilaku berisiko seperti tawuran,” imbuh Amalina.
Anak yang jadi saksi mata atau bahkan korban KDRT, lanjut dia, berisiko lebih besar masuk dalam siklus abusive yang sama. Baik sebagai pelaku maupun korban. Sebab, anak belajar dari yang mereka lihat. Jadi, ketika dewasa, mereka akan mengadopsi cara sama yang dilakukan ortunya.
”Mereka berpikir oh begitu cara berargumentasi atau menyelesaikan konflik itu ya lewat pertengkaran atau kekerasan. Biasanya anak laki-laki akan mengadopsi perilaku yang ayahnya tunjukkan, pun sebaliknya,” paparnya.
Amalina mengatakan, pola kelekatan yang terbentuk sejak kecil terhadap figur ortu sudah tidak sehat. Jadi, ketika anak dewasa dan menjalin relasi dengan orang lain, mereka selalu merasa tidak aman, resah, insecure, tidak enakan. Hal itu membuatnya kesulitan untuk membangun batasan yang sehat.
”Individu dengan pola seperti ini lebih mudah terlibat dalam situasi hubungan yang toxic dan jadi korban. Siklus kekerasan itu siklus antargenerasi yang kalau tidak segera diputus bisa berlanjut terus,” tuturnya. (lai/c7/nor)
BANTU MENTAL ANAK KEMBALI PULIH
• Berikan ruang aman dan nyaman. Jauhkan anak sementara waktu agar tidak terus-menerus menyaksikan pertikaian ortunya.
• Bantu anak mengekspresikan perasaan dan pikirannya selama ini.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
