ILUSTRASI: Bau badan (UPMC HealtBeat)
JawaPos.com – Bau badan memang mengganggu aktivitas ketika ketiak mengeluarkan keringat berlebih. Tapi, bau badan juga bisa disebabkan kondisi medis tertentu atau karena mengosumsi makanan tertentu.
Keringat sendiri pada dasarnya tidaklah berbau. Bau badan berasal dari bakteri yang hidup di bagian tubuh yang berkeringat, seperti ketiak. Saat seseorang berkeringat, bakteri ini akan memecah protein tertentu dalam keringat dan menjadi asam, sehingga menimbulkan bau.
Keringat yang menghasilkan bau badan tergantung pada kelenjar yang mengeluarkannya. Lebih mungkin mengalami bau badan jika keringat berasal dari kelenjar apokrin, yang mengeluarkan keringat dari folikel rambut yang terdapat di ketiak, selangkangan, dan area kemaluan. Keringat dari kelenjar ini, yang dihasilkan saat seseorang kepanasan atau stres, mengandung lemak dan senyawa lain yang berbau ketika diuraikan oleh bakteri.
Sebaliknya, kelenjar ekrin ditemukan di seluruh kulit dan mengeluarkan keringat melalui saluran untuk mengatur suhu tubuh. Keringat ini kekurangan lemak dan senyawa lain yang berbau ketika dipecah oleh bakteri.
Selain itu, terdapat juga fakstor eternal yang dapat menjadi penyebab munculnya bau badan.
Saat berat badan bertambah, seseorang mungkin akan mengalami lebih banyak lipatan kulit. Lipatan ini dapat menampung keringat dan bakteri, sehingga menciptakan kondisi bau badan yang menyengat.
Bawang merah, bawang putih, dan beberapa sayuran persilangan mengandung belerang yang dapat menumpuk dan keluar melalui kelenjar ekrin, sehingga membuat bau badan semakin kuat.
Makanan pedas juga bisa membuat tubuh lebih banyak berkeringat, yang pada akhirnya bisa memberi aroma yang lebih kuat.
Beberapa kondisi dapat mengubah aroma tubuh normal seseorang, seperti diabetes, masalah ginjal atau penyakit hati, dan tiroid yang terlalu aktif. Beberapa kondisi genetik yang sangat langka juga dapat mengubah bau badan.
Dalam beberapa kasus, bau badan yang aneh bisa menjadi pertanda sesuatu yang lebih serius. Misalnya, bau seperti pemutih atau urin mungkin mengindikasikan masalah ginjal atau hati.
Stres dapat meningkatkan detak jantung dan mengirimkan sinyal ke kelenjar keringat untuk mulai memproduksi keringat guna membantu mengatur suhu tubuh dan menyeimbangkan cairan tubuh. Meskipun keringat mungkin dikeluarkan melalui kelenjar ekrin, sebagian besar keringat akibat stres akan keluar dari kelenjar apokrin, yang menghasilkan keringat lebih berbau.
Jika memiliki anggota keluarga dengan keringat yang bau, kemungkinan besar keturunannya juga akan mengalaminya. Gen adalah salah satu faktor yang menentukan bau badan seseorang.
Suatu kondisi yang disebut hiperhidrosis dapat menyebabkan seseorang banyak berkeringat. Orang dengan kondisi ini mungkin berkeringat meski tidak merasa kepanasan atau stres berlebihan.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
