JawaPos.com - Gaya hidup sedentari dapat berpotensi memunculkan dampak buruk bagi kesehatan seperti dampak buruk dari kebiasaan merokok.
Menurut dr. Bonnie Medana Pahlavie, MKK selaku pembimbing Kesehatan Kerja Muda Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta pada diskusi daringnya pada (7/11), gaya hidup sedentari dapat disebut pula sebagai cara merokok yang baru atau the new smoking.
Artinya, gaya hidup tersebut akan menghasilkan dampak buruk yang serupa dengan kebiasaan merokok.
Sebagaimana diketahui, gaya hidup sedentari dapat diartikan sebagai aktivitas yang mengarah pada seluruh jenis kegiatan yang dilakukan saat bukan jam tidur, dengan ciri khas pengeluaran kalori yang tidak banyak sebesar tidak lebih dari 1,5 METs. Demikian pendapat Kemenkes RI.
Contoh mudah dari gaya hidup sedentari ini adalah berdiam diri baik dalam posisi duduk atau tidur dalam waktu yang cukup lama. Menonton TV, duduk depan layar terlalu lama, dan lain-lain.
Ketika Anda pergi ke pasar atau mengantarkan anak Anda ke sekolah dengan mengendarai kendaraan bermotor juga dapat menjadi contoh sedentari.
Bonnie menambahkan, apabila gaya hidup sedentari dilakukan secara konsisten, maka terjadi lah penimbunan lemak yang ada di tubuh dan berpotensi menghasilkan banyak penyakit.
"(Sedentari) tidak memberikan gerak dalam tubuh kita, akhirnya terjadi penumpukan lemak dalam tubuh kita. Sehingga, menimbulkan efek berupa penyakit tidak menular seperti obesitas, hipertensi, dan sebagainya," tutur dr. Bonnie.
Maka dari itu, pembatasan gaya hidup sedentari harus dilakukan semaksimal mungkin untuk mengantisipasi dampak buruk tersebut. Menurut Bonnie, tubuh manusia yang di dalamnya terdapat jaringan otot, didesain untuk bergerak, maka anjuran untuk aktif bergerak juga sangat berlaku.
"150 menit dalam sepekan. Mau dipecah rata jadi 30 menit selama lima hari silakan, mau dipecah jadi 60-60-30 (menit) juga silakan," tambah Bonnie.
Olahraga ringan seperti lari kecil, jalan cepat, dan aktivitas kardio lainnya menjadi kegiatan yang tepat untuk mengatasi dampak buruk yang akan diterima oleh pelaku gaya hidup sedentari.
***