Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Desember 2018 | 16.05 WIB

Cara Baru Perkenalkan Wayang Orang Pada Milenial Sesuai Zaman

Tokoh di balik pagelaran wayang orang seperti Sudjiwo Tedjo, penulis naskah dan sutradara lakon Rahwana Putih seusai pertunjukan. - Image

Tokoh di balik pagelaran wayang orang seperti Sudjiwo Tedjo, penulis naskah dan sutradara lakon Rahwana Putih seusai pertunjukan.

JawaPos.com - Era digital membuat budaya dan tradisi leluhur mulai luntur. Barangkali semakin banyak anak muda yang kurang mengenal tradisi tradiaional daerahnya masing-masing. Budaya luar begeri yang masuk tentu harus seimbang dengan mengenal budaya tradisional. Salah satunya wayang.


Di zaman now ini seni tradisi maupun kontemporer tumbuh berkembang seiring dengan pola pikir yang bersifat praktis dan taktis. Efisiensi, efektifitas, dan dinamika pemikiran menjadi referensi dalam menggarap karya seni dengan berbingkai pada kebebasan berekspresi masing-masing seniman. Pada kenyataannya hasil karya seni memiliki ideologi tertentu yang dapat berfungsi untuk membangun kehidupan manusia dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.


Ahli Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Darmoko menilai sebagai karya seni tradisional, wayang dipandang mampu untuk menggugah spirit kehidupan umat manusia. Oleh sebab itu sebuah karya seni di era global harus berfungsi ganda.


Di samping menghibur karena keindahan di dalamnya, juga bermanfaat untuk membangun jiwa serta mencerdaskan pemikiran masyarakat. Karya seni dari masa ke masa mengalami evolusi dan transformasi melalui proses resepsi (tanggapan) seorang pengarang atau pembaca sehingga lahirlah karya seni baru yang penggarapan dan tujuannya disesuaikan dengan situasi zaman.


Darmoko memaparkan baru-baru ini Sudjiwo Tedjo berusaha menggarap kembali kisah tokoh Rahwana dari sebuah novel karya Sri Teddy Rusdy berjudul Rahwana Putih dalam rangka Dies Natalis FIB UI yang ke-78. Sudjiwo Tedjo menggarap lakon, tampak pada setiap ekspresi tokoh, latar waktu, tempat dan sosial serta rangkaian peristiwa pada setiap adegan yang ditampilkan.


Dialog antara cinta dan kekuasaan dieksplorasi melalui dialektika kebenaran di dalam lakon ini. Bingkai wayang purwa pada zaman Ramayana memberikan inspirasi sang kreator sebagai materi penggarapan dengan mengetengahkan kisah kelahiran, kematian, dan diangkatnya tokoh Rahwana sebagai resi oleh dewata.


Mengenal Wayang Purwa


Di dalam wayang purwa mengetengahkan kisah-kisah mitos pada awal zaman (keberadaan dewa-dewi, nabi, dan jin), Lokapala, Arjunasasrabahu, Ramayana, Mahabharata dan kisah tentang tokoh Rahwana dapat menjelajah pada zaman-zaman Lokapala, Arjunasasrabahu, Ramayana, dan Mahabharata. Di dalam perspektif tradisi dan konvensi sastra Sanskerta dan Jawa Kuno Rahwana gugur di medan tempur dan sukmanya diangkat dewata menjadi resi pertapa.


Sedangkan di dalam tradisi dan konvensi pewayangan dan pedalangan (Jawa Baru), sukma Rahwana atau Dasamuka merasuk ke dalam jiwa dan pikiran tokoh-tokoh jahat (angkara murka) sebagai wujud perlawanan terus-menerus terhadap tokoh-tokoh titisan Wisnu yang berjuang menegakkan kebenaran, keadilan, dan keutamaan sepanjang zaman.


"Di dalam proses penggarapan seni tradisi yang diikat oleh konvensi memori kolektif masyarakat, maka diperlukan kekuatan imajinasi, kepekaan intuisi, intektualitas, dan penguasaan kode (konvensi) budaya untuk dapat menjelajahi genealogi (sejarah), mitos yang membingkai, serta tradisi dan konvensi budaya lokal (gagrak)," kata Darmoko kepada JawaPos.com dalam keterangan tertulis baru-baru ini.


Pergelaran wayang klasik konvensional secara etika memiliki ideologi happy ending, yaitu keutamaan mengalahkan keangkaramurkaan, kebenaran unggul terhadap ketidakbenaran, dan keadilan mampu membekuk ketidakadilan. Rahwana selalu diposisikan pada pihak yang antagonis dan jahat karena tutur kata, sikap, dan perilaku yang ditunjukkan berorientasi pada sifat keangkaramurkaan.


Sebaliknya Ramawijaya adalah simbol dari manusia yang berjuang menegakkan keutamaan, kebenaran, dan keadilan. Rama dalam konteks ini sebagai seorang pemberani, berwibawa, perkasa, dan bertanggungjawab.


"Melihat fenomena ini maka dalam hal memberikan penilaian suatu tokoh di dalam konteks sosial di dalam teks naratif sangat tergantung dari point of view (sudut pandang) seorang peresepsi sekaligus penafsir dalam konteks pagelaran ini adalah penulis naskah dan sutradara," jelasnya.


Menurut Darmoko, keberadaan tokoh-tokoh antagonis di dalam teks naratif seperti pada wayang dan babad (sastra sejarah Jawa) yang diekspresikan dalam realitas sosial melalui berbagai bentuk karya seni menunjukkan bahwa masyarakat (setempat) memiliki keinginan untuk mengokohkan identitas lokal yang sejak lama merasakan ketertindasan oleh hegemoni kekuasaan ‘pusat’. Masyarakat marginal yang diwakili oleh sejumlah tokoh antagonis dalam teks naratif oleh masyarakat (setempat) melalui seniman dibela dan diposisikan sebagai tokoh yang agung dan bermartabat.


"Rahwana Putih hanya sebagai salah satu dari sebuah pembelaan sang kreator yang boleh jadi mewakili masyarakat yang selama ini termarginalkan itu dari hegemoni kekuasaan ‘pusat’ yang dalam konteks sejarah kebudayaan Jawa adalah budaya Mataraman," katanya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore