
AKTIF: Menjaga tubuh selalu bugas dengan berolahraga teratur menjadi salah satu cara untuk meringankan gejala long Covid. (Ilustrasi diperagakan model - Alfian Rizal/Jawa Pos)
JawaPos.com–Bagi yang sudah berkeluarga, siapa yang tak pernah mengalami konflik rumah tangga. Konflik dalam sebuah keluarga atau rumah tangga sudah jadi hal biasa.
Ketika ada konflik, banyak keluarga ingin segera menuntaskannya. Padahal dalam menyelesaikan konflik rumah tangga, perlu dihindari unsur paksaan dan tidak harus seketika tuntas.
Penanganan konflik dalam rumah tangga tersebut dikupas Psikolog dari Siloam Hospitals Lippo Cikarang Rachel Chalista F.D. Hersa. Dia menekankan penyelesaian konflik keluarga atau rumah tangga dengan menekankan komunikasi.
Menurut Rachel, dalam setiap keluarga pasti akan terjadi atau timbul konflik yang tidak bisa dihindari. ”Namun pada saat seseorang menyadari bagaimana solusi tidak harus segera tuntas saat itu, maka konflik akan dapat lebih cepat tertangani,” kata Rachel dalam keterangannya Jumat (1/4).
Penyelesaian konflik rumah tangga dengan tidak harus segera tuntas, malah bisa memberikan rasa nyaman kepada yang sedang konflik. Sebab, mereka tidak di bawah tekanan atau paksaan untuk menyelesaikan konflik saat itu juga.
Sebaliknya, semua pihak diajak untuk sama-sama berfikir mencari jalan keluar yang terbaik untuk mengatasi persoalan. ”Baik antara suami, istri, orang tua, maupun anak,” papar Rachel.
Ketika kondisi seperti itu sudah muncul, setiap anggota keluarga merasa nyaman. Selain itu seluruh anggota keluarga merasa memiliki tujuan yang satu dalam sebuah keluarga.
”Dalam hal masalah konflik komunikasi antara suami istri, harus disadari bahwa sebenarnya masalah itu tidak harus selesai semuanya. Tetapi setidaknya kita bisa menanganinya,” terang Rachel.
Rachel menjelaskan, di dalam keluarga, setiap individu perlu memiliki self awareness (kesadaran akan keberadaan diri) bahwa mempunyai kekuatan dan kelemahan. Sehingga diharapkan dapat memiliki keinginan untuk saling membantu.
Dia mengingatkan betapa penting peran keluarga sebagai sistem yang terkecil di lingkungan sosial masyarakat. Keluarga berperan dalam membangun stabilitas, membangun sistem yang lebih besar dan utuh di lingkungan.
”Diharapkan muncul keluarga-keluarga yang bertumbuh dengan pola komunikasi yang sehat. Sehingga tercipta lingkungan masyarakat yang dewasa dalam berelasi di lingkungan. Serta lingkungan masyarakat kita menjadi harmonis, sehat, nyaman, dan Bahagia,” ucap Rachel.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
