Minang Eethuis.(Istimewa)
JawaPos.com – Menikmati kuliner khas Suku Minangkabau di rumah makan pinggir-pinggir jalan atau di dalam mall tentu sudah biasa. Namun, bagaimana jika anda menikmatinya di dalam sebuah rumah tua peninggalan zaman Belanda di Kota Jakarta?
Asri dan nyaman. Begitulah kesan pertama, ketika anda menyambangi ‘Minang Eethuis’. Dengan konsep, ‘bersantap, berkumpul, dan bercerita’, rumah makan yang berada di dalam bangunan tua peninggalan zaman Belanda ini, diharapkan bisa menjadi daya tarik sendiri, agar orang-orang betah berlama-lama di dalamnya.
General Manager (GM) Minang Eethuis Nanang Farid Syah mengatakan, berdasarkan sertifikat, rumah peninggalan zaman Belanda yang kini digunakan sebagai ‘Minang Eethuis’, awalnya dibangun pada 1918 dan ditempati orang dari negeri ‘kincir angin’.
Seiring berjalannya waktu, pada 1938 rumah ini diambil alih oleh orang keturunan Tionghoa. Kemudian dia buat villa. Berikutnya sudah berganti-tangan tangan dengan orang-orang pribumi pasca kemerdekaan.
“Jadi baru-baru ini, rumah diambil oleh investor yang ingin kediaman ini dijaga dan dipelihara. Dengan konsep supaya rumah terawat, ya berarti harus ada aktivitas. Lalu dibuatlah rumah makan minang,” ujar Nanang Farid Syam kepada JawaPos.com, Senin (3/11) siang.
Nanang melanjutkan, karena hal yang dilakukan pihaknya berkaitan dengan menjaga rumah yang menjadi cagar budaya, akhirnya dikombinasi namanya menjadi ‘Minang Eethuis’.
“Saya mungkin ejaan bahasa Belanda-nya gak pas ya, tapi kira-kira artinya ‘rumah makan minang’ dalam Bahasa belanda,” jelas mantan Ketua Wadah Pegawai KPK tersebut.
Dikatakan Nanang, meskipun usaha yang dirintis pihaknya merupakan rumah makan atau restauran Padang, namun sengaja tidak menggunakan brand kata-kata Padang sebagaimana rumah makan Padang pada umumnya. Hal ini karena menurutnya, kata Padang lebih mengarah ke sebuah kota tertentu saja.
Sejumlah orang saat menikmati berbagai menu makanan di Minang Eethuis pada Senin (3/11) siang. (Istimewa).
“Tapi kalau kata ‘Minang’, karena di manapun orang Minang itu dimuka bumi ini, ya ini tempatnya untuk bertemu, berkumpul dan bercerita,” tegasnya.
Kendati demikian, pria yang kerap disapa 'Uda Nanang' ini menambahkan, jika berbagai menu yang disajikan tetap mengangkat kuliner Minangkabau yang sudah akrab dilidah banyak orang. Antara lain rendang, tunjang, dan ikan bilis, yang hanya ada di Danau Singkarak.
“Jadi ada beberapa menu yang kita jadikan sebagai menu favoritlah. Di antaranya Ikan Salai. Ikan Salai itu ikan asap yang digulai. Ya menunya relatif mirip dengan rumah makan Padang lain, tapi resep itu kan punya khas ya,” kata Nanang.
Nanang menegaskan, kendati bisnis yang dijalankan pihaknya menyajikan kuliner Minangkabau, namun target pelanggan yang diinginkannya tidak hanya berasal dari ‘Orang Awak’ saja.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
