Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Oktober 2025 | 16.06 WIB

Pie and Mash dengan Jellied Eels: Hidangan Legendaris yang Hampir Hilang dari London

Seekor belut yang ditangkap dan diperdagangkan untuk konsumsi, meski statusnya sudah terancam punah. (University College London) - Image

Seekor belut yang ditangkap dan diperdagangkan untuk konsumsi, meski statusnya sudah terancam punah. (University College London)

JawaPos.com – London kini menghadapi kekhawatiran akan hilangnya salah satu ikon kulinernya, pie and mash yang biasanya disajikan bersama jellied eels.

Hidangan khas masyarakat Cockney di kawasan East End ini perlahan meredup popularitasnya. Menurut laporan Reuters, para pembuat pie and mash bahkan mendesak agar kuliner tersebut mendapat status Traditional Speciality Guaranteed (TSG) untuk melindungi keaslian resepnya dari klaim restoran modern yang kerap menyalahgunakan label “tradisional.”

Pada abad ke-19, belut Sungai Thames menjadi bahan utama karena murah dan mudah didapat. Belut ini kemudian diolah menjadi jellied eels dengan cara direbus lalu didinginkan hingga membentuk agar alami. Hidangan itu lantas disajikan bersama pie dan kentang tumbuk, yang kala itu populer di kalangan kelas pekerja London.

Kini, meski isi pie lebih sering menggunakan daging sapi cincang, jellied eels tetap dipertahankan sebagai pelengkap tradisional dengan nilai budaya yang tinggi.

Namun, perjalanan melestarikan kuliner ini penuh tantangan. Menurut sebuah laporan, banyak warung tradisional di East End terpaksa gulung tikar karena menurunnya minat generasi muda. Hidangan yang dulu begitu lekat dengan identitas kelas pekerja kini bahkan tak lagi dikenal oleh sebagian anak muda.

Beberapa warung legendaris seperti M. Manze masih setia dengan resep turun-temurun. Belut direbus dalam kaldu berbumbu lalu didinginkan hingga membentuk jeli bertekstur khas. Rasa yang unik dan lembut justru membuatnya terasa asing bagi selera modern yang lebih terbiasa dengan kuliner cepat saji atau internasional.

Kesulitan semakin berat sejak krisis finansial. Penjualan pie and mash dan jellied eels menurun drastis, sementara restoran kontemporer dengan menu inovatif di kawasan seperti Shoreditch kian mendominasi.

Di sisi lain, isu lingkungan ikut memperparah keadaan. Penelitian yang dilansir UCL News menemukan bahwa sebagian produk jellied eels menggunakan belut Eropa yang berstatus critically endangered. Populasi spesies ini menyusut drastis akibat kerusakan habitat, perubahan iklim, serta pembangunan infrastruktur sungai yang menghambat migrasi alami belut. Upaya budidaya dalam skala besar pun masih sulit dilakukan karena siklus hidup belut yang kompleks.

Masalah transparansi produk juga menjadi sorotan. Anglers Net mencatat, sebuah supermarket besar pernah menuai kritik karena menjual produk jellied eels berlabel “British,” padahal belutnya berasal dari Selandia Baru. Kasus ini memunculkan desakan agar labelisasi lebih ketat, sehingga konsumen mengetahui asal-usul belut yang mereka konsumsi.

Kini, upaya melestarikan pie and mash bukan hanya soal mempertahankan cita rasa klasik, tetapi juga menjaga kelestarian spesies yang terancam punah.

Perlindungan resmi melalui status TSG dianggap dapat menjaga identitas kuliner London, sementara regulasi perdagangan dan kesadaran konsumen dibutuhkan demi keberlanjutan lingkungan.

Jika tidak ada langkah nyata, hidangan legendaris ini bukan hanya hilang dari meja makan warga, tetapi juga dari sejarah budaya kota London itu sendiri. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore