Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Oktober 2025 | 15.09 WIB

Mengenal Kekayaan Kuliner Indonesia Ampo, Camilan Unik dan Menarik dari Tanah Liat

Ampo yang sudah siap dikonsumsi (instagram/@mridhoramadhana) - Image

Ampo yang sudah siap dikonsumsi (instagram/@mridhoramadhana)

JawaPos.com - Ampo merupakan salah satu camilan tradisional yang tidak biasa sekaligus bagian dari kekayaan kuliner di Indonesia. Sekilas, ampo terlihat seperti lintingan cokelat tetapi sebenarnya makanan ini terbuat dari tanah liat yang menjadikannya memiliki cita rasa unik tersendiri.

Ampo dikenal sebagai makanan khas Tuban, meskipun demikian ampo juga banyak dijumpai di kota-kota Jawa Tengah dan Jawa Timur lainnya. Pada tahun 2024, camilan ini resmi ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Republik Indonesia.

Walaupun terbuat dari tanah tetapi proses pembuatan ampo tidak sembarangan. Dibagikan JawaPos sebelumnya, Ampo memiliki bahan dasar dari tanah kering yang sudah ditumbuk sampai halus seperti tepung dan sudah diayak dengan saringan. Sementara, kerikil dan tanah lainnya dibuang.

Selanjutnya, tanah yang sudah berbentuk tepung diberi sedikit air dan dibentuk. Adonan ampo dibentuk seperti kue semprong sambil diolesi minyak sayur yang dicampur abu jerami. Kemudian ampo dibakar selama 5 jam di atas tungku api.

Tekstur dan Cita Rasa Ampo

Dikarenakan proses pembuatannya dibakar, ampo memiliki rasa yang khas. Ketika memakannya, kamu akan langsung merasakan aroma seperti bau kerak gosong atau hangus. Sedangkan untuk teksturnya renyah seperti keripik.

Kandungan Gizi Ampo

Dikutip dari website resmi Universitas Gajah Mada pada Jum’at (3/10), Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc. mengungkapkan bahwa ampo tidak memiliki nilai gizi dikarenakan bahan dasarnya mengandung silika dan alumina yang tidak mudah larut di air dan tidak dapat diserap oleh tubuh.

Sementara mengenai keamanannya, tergantung pada sumber tanah. Jika tanah yang diambil berasal dari selatan gunung berapi dan masih berada di area pegunungan, maka tanah masih relatif bersih.

Sedangkan, jika tanah yang diambil berasal dari dekat ladang atau pemukiman yang banyak aktivitas seperti pemupukan, maka ada kemungkinan tanah tercemar pestisida dan logam berat.

Popularitas Ampo dari Masa ke Masa

Ampo sempat menjadi makanan populer untuk sajian hajatan atau pun dijadikan oleh-oleh. Namun, sayangnya popularitas ampo terus menurun sejak awal 1990-an.

Hal ini disebabkan oleh jumlah produsen ampo yang terus berkurang akibat tidak adanya regenerasi maupun karena beralih profesi.

Selain itu, proses pembuatan ampo yang membutuhkan waktu hingga berhari-hari tidak bisa dipercepat dan bahan dasarnya sulit dicari. Tanah yang digunakan untuk membuat ampo harus menggunakan tanah lempung sawah yang padat, empuk, dan berwarna merah.

Peminat ampo juga semakin berkurang lantaran semakin banyaknya cemilan lain dengan rasa yang lebih cocok dengan selera masyarakat masa sekarang. Kini rata-rata ampo digunakan untuk acara pernikahan atau sunatan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore