
Ilustrasi Bitcoin dan Dolar Amerika. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Pergerakan Bitcoin kembali diuji faktor makro global setelah indeks dolar Amerika Serikat atau US Dollar Index (DXY) menunjukkan sinyal breakout. Secara historis, penguatan dolar hampir selalu menjadi kabar buruk bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Namun pada 2026, pola itu mulai menunjukkan retakan, memunculkan pertanyaan baru di kalangan trader: apakah BTC kini sudah cukup kuat bergerak dengan fundamentalnya sendiri?
Dikutip dari BeInCrypto, Sabtu (16/5), Bitcoin diperdagangkan di USD 80.605 atau sekitar Rp 1,41 miliar dengan kurs Rp 17.500. Dalam 24 jam terakhir, BTC naik 0,97%, sementara performa bulanan masih mencatat kenaikan 8,71%.
Di sisi lain, DXY bergerak naik menuju area 101 setelah membentuk pola double bottom pada chart harian. Setup teknikal ini biasanya menjadi sinyal bullish bagi dolar, sekaligus tekanan untuk market kripto.
Selama lebih dari satu dekade, Bitcoin dan DXY umumnya bergerak berlawanan arah. Ketika dolar melemah, likuiditas global cenderung longgar dan appetite terhadap aset berisiko meningkat. Kondisi ini sebelumnya mendorong reli besar Bitcoin pada 2013, 2017, dan 2020.
Sebaliknya, saat dolar menguat pada 2014, 2018, dan 2022, Bitcoin mengalami drawdown brutal, bahkan lebih dari 60%.
Polanya sederhana: dolar kuat berarti uang lebih mahal, likuiditas mengetat, dan investor cenderung menghindari aset volatil seperti kripto.
YouTuber kripto Carl Moon juga menyoroti pola ini melalui chart bulanan yang membandingkan setiap siklus halving Bitcoin dengan fase DXY. Menurutnya, fase bull run BTC selama ini identik dengan pelemahan dolar.
Namun ada satu hal yang menarik. Dalam proyeksi terbarunya, Carl justru melihat kemungkinan Bitcoin dan dolar sama-sama naik — sesuatu yang sebelumnya jarang terjadi.
Meski hubungan invers secara historis masih valid, data pergerakan harian sepanjang 2026 menunjukkan cerita yang lebih kompleks.
Pada akhir Januari hingga awal Februari, korelasi Bitcoin dan DXY justru mendekati +1.00, artinya keduanya bergerak searah. Pola serupa muncul lagi pada pertengahan Maret hingga awal April, ketika dolar dan Bitcoin sama-sama rebound.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
