
Ilustrasi harga Bitcoin (BTC) yang turun. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Pasar kripto kembali mengalami guncangan besar pada Selasa (18/11) setelah Bitcoin merosot ke level terendah enam bulan. Tekanan jual yang terjadi selama beberapa hari terakhir memuncak setelah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan penguatan, memperkecil peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember dan memperburuk sentimen investor di seluruh pasar.
Dikutip dari Beincrypto, Selasa (18/11), Bitcoin anjlok hingga USD 91.545 (Rp 1,52 miliar dengan kurs Rp 16.700), atau turun 27% dari rekor tertingginya pada Oktober. Ethereum pun terpeleset lebih dalam ke USD 2.978 (Rp 49,7 juta), mematahkan support psikologis USD 3.000 yang selama ini menjadi pegangan pasar.
Kejatuhan ini menghapus kenaikan yang sudah dibangun pasar selama berminggu-minggu. Pada 17 November saja, Bitcoin turun 3,21%, sementara Ethereum anjlok 4,22%. Aset utama lain ikut terpukul: Solana anjlok 22,51% dalam sepekan, XRP turun 16,73%, dan Cardano jatuh 22,12%.
Tekanan tidak hanya melanda kripto. S&P 500 ikut turun 61,70 poin ke 6.672,41, sementara Nasdaq melemah 192,51 poin ke 22.708,07. Keduanya ditutup di bawah moving average 50 hari untuk pertama kalinya sejak 2007 dan 1995.
Dow Jones juga turun lebih dari 550 poin menjelang laporan kinerja Nvidia. Arus modal pun beralih ke sektor kesehatan dan energi, sementara investor ritel terlihat mengurangi eksposur risiko.
Salah satu teknikal penting terjadi pada perdagangan hari ini: Bitcoin akhirnya menutup CME futures gap lama yang berada dekat USD 92.000. Gap tersebut terbuka sejak April 2025 karena perbedaan jam perdagangan antara CME dan bursa spot.
Trader DaanCryptoTrades mengonfirmasi bahwa gap ini resmi tertutup, menghapus satu risiko teknikal yang selama ini membayangi pasar. Namun, ia menekankan bahwa penutupan gap bukan berarti pasar akan rebound langsung. Tekanan jual masih kuat, sementara permintaan belum terlihat pulih.
Trader kini berada pada persimpangan penting: dengan target bawah teknikal sudah hilang, harga BTC bisa mencoba membentuk dasar atau justru kehilangan momentum dan turun lebih jauh jika likuiditas kembali melemah.
Gelombang tekanan makin berat setelah data Empire State Manufacturing Index melonjak ke 18,7, jauh lebih kuat dari bulan sebelumnya. Data ini memicu kekhawatiran bahwa The Fed tidak akan memangkas suku bunga pada Desember.
Probabilitas pasar berubah cepat: platform Polymarket menunjukkan peluang “tidak ada pemangkasan” meningkat ke 55%, sementara CME Group mencatat peluang kebijakan tetap tak berubah sebesar 60%. Pengetatan likuiditas seperti ini biasanya memukul aset berisiko, termasuk kripto.
Laporan 10X Research menunjukkan aktivitas pembeli baru berhenti sejak 10 Oktober, membuat pasar rentan terhadap gelombang likuidasi lanjutan. Sentimen industri pun jatuh mendekati titik terlemah akhir-akhir ini. Data opsi menunjukkan volume put kini melampaui call, menandakan trader bersiap menghadapi potensi penurunan lanjutan.
Data on-chain dari Glassnode dan Bitfinex menunjukkan stabilisasi realized losses, yang mengindikasikan pelaku pasar jangka pendek mulai kapitulasi. Secara historis, fase ini sering mendahului pembentukan dasar harga, meski pemulihan nyata baru terjadi ketika investor jangka panjang kembali melakukan akumulasi.
Analis Benjamin Cowen memperkirakan Bitcoin bisa menguji area 200-week EMA antara USD 60.000–USD 70.000 (Rp 1,0–1,17 miliar). Namun ia juga membuka peluang adanya relief rally jangka pendek sebelum penurunan berlanjut.
Di sisi lain, analis Roman Trading menargetkan USD 76.000 (Rp 1,27 miliar) sebagai support berikutnya, mengutip pola teknikal yang melemah dan momentum yang rapuh. Proyeksi beragam ini menunjukkan bahwa trader kini berada pada fase ketidakpastian tinggi.
Pasar kripto kini menanti apakah Bitcoin mampu bertahan di atas area USD 90.000 (Rp 1,5 miliar) atau justru memasuki fase penurunan yang lebih dalam. Data ekonomi, kebijakan The Fed, hingga arus modal institusional akan menjadi penentu arah dalam beberapa hari ke depan. Untuk saat ini, risiko tetap tinggi dan pasar berada dalam mode defensif.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022