Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Oktober 2025 | 17.31 WIB

Crash Kripto Besar Diperkirakan Baru Datang 2026 atau 2027

Ilustrasi Bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Harga Bitcoin terus melambung hingga USD 117.000 atau setara Rp 1,9 miliar per koin. Kapitalisasi pasar kripto pun mencapai lebih dari USD 4 triliun atau sekitar Rp 66.600 triliun. Pasar merayakan euforia bull market yang sudah berlangsung lebih dari setahun. Namun, sejarah menunjukkan satu kenyataan pahit, setiap masa keemasan kripto selalu diikuti dengan kejatuhan besar.

Dikutip dari BeInCrypto, Kamis (2/10), analisis berbasis data sejak 2011 hingga kini menunjukkan bahwa pasar kripto sudah melewati empat musim dingin besar. Semuanya dipicu oleh peristiwa yang berbeda-beda, mulai dari peretasan bursa, runtuhnya ICO, kegagalan stablecoin, hingga kebangkrutan bursa besar.

“Setiap musim dingin selalu ditandai oleh penurunan harga berkepanjangan, keluarnya investor, serta melambatnya pendanaan dan inovasi,” tulis laporan itu.

Pada 2011, Bitcoin jatuh dari USD 32 atau Rp 532 ribu menjadi hanya USD 2 atau Rp 33 ribu setelah gelembung spekulatif pertama pecah. Kemudian pada 2014–2015, bursa Mt. Gox diretas dan Bitcoin longsor dari lebih USD 1.100 atau Rp 18,3 juta ke sekitar USD 150 atau Rp 2,4 juta.

Musim dingin berikutnya terjadi pada 2018–2020, setelah harga Bitcoin sempat menyentuh hampir USD 20.000 atau Rp 333 juta, lalu anjlok ke USD 3.000 atau Rp 49 juta. Ribuan token ICO ambruk dan minat investor institusi menghilang.

Fase terbaru adalah 2022–2023, dipicu oleh runtuhnya Terra/Luna dan kebangkrutan FTX. Bitcoin rontok dari rekor USD 69.000 atau Rp 1,1 miliar pada November 2021 menjadi hanya USD 15.500 atau Rp 258 juta setahun kemudian.

Menurut analisis, sebelum setiap musim dingin selalu ada periode euforia berlebihan, model bisnis rapuh, dan risiko yang terlalu terkonsentrasi. “Begitu satu kegagalan besar terjadi, kepercayaan lenyap dan likuiditas mengering. Itulah yang menyeret pasar ke fase penurunan panjang,” jelas laporan BeInCrypto.

Faktor pemicunya beragam, mulai dari spekulasi berlebihan, dominasi satu platform seperti Mt. Gox, reli palsu ICO, hingga kejatuhan proyek besar semacam Terra dan FTX. Regulasi juga berperan, termasuk pembatasan dari Tiongkok pada 2013 hingga tindakan keras SEC terhadap ICO pada 2018.

Kapan Crash Berikutnya?

Situasi saat ini dinilai berbeda. Inflasi global memang mulai mereda, The Fed baru saja memangkas suku bunga pertama pada September 2025, dan pertumbuhan ekonomi masih rapuh. Akses institusional terhadap produk kripto juga membaik, dengan bank dan manajer aset makin aktif membangun infrastruktur.

Karena itu, menurut analisis, pasar kripto masih dalam fase awal siklus risiko. “Musim dingin tidak dimulai dari kondisi campuran seperti sekarang. Ia muncul setelah euforia ritel, leverage berlebihan, dan konsentrasi risiko mencapai puncaknya,” ungkap laporan itu.

Prediksi paling kuat, musim dingin kripto berikutnya kemungkinan baru akan terjadi antara kuartal IV 2026 hingga kuartal II 2027. “Easing atau jeda kebijakan biasanya memperpanjang selera risiko 12–24 bulan sebelum akhirnya berbalik. Saluran institusional justru menarik modal masuk dan menunda puncak, bukan mempercepatnya,” tulis BeInCrypto.

Namun, ada potensi musim dingin datang lebih cepat, bahkan pada semester I 2026, jika terjadi kombinasi faktor seperti lonjakan inflasi, krisis kebijakan fiskal, kegagalan stablecoin besar, atau pembatasan regulasi yang ketat di Amerika Serikat maupun Eropa. Sebaliknya, jika inflasi kembali terkendali dan alokasi institusi makin luas tanpa ada guncangan besar, pasar bisa bertahan hingga setelah 2027.

Analis menyebut 2026 masih akan menjadi fase “risk-on”, di mana pasar kripto bisa terus tumbuh dengan dorongan kebijakan moneter yang lebih longgar dan infrastruktur institusi yang lebih kuat. Namun, investor tetap diingatkan untuk disiplin. “Musim dingin selalu datang tepat setelah pesta mencapai puncak,” kata laporan itu, mengingatkan para investor agar memiliki rencana keluar sebelum terlambat.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore