Ilustrasi Bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Meskipun perusahaan besar seperti BlackRock dan Metaplanet mencetak rekor baru dalam akumulasi Bitcoin, harga BTC justru tertahan di bawah titik tertingginya sepanjang masa, yaitu USD 111.900 atau sekitar Rp 1,81 miliar (kurs Rp 16.200 per USD). Ini memunculkan pertanyaan: kenapa harga Bitcoin belum juga breakout lebih jauh?
Dikutip dari Bitcoinist, Rabu (10/7), BlackRock kini resmi mengelola lebih dari 700.000 BTC, setara dengan USD 76,35 miliar (sekitar Rp 1.282 triliun), dan mewakili 3,5 persen dari total suplai Bitcoin global.
Bloomberg mencatat bahwa ETF Bitcoin milik BlackRock, IBIT, rata-rata menyerap 40.000 BTC per bulan. Jika tren ini berlanjut, maka BlackRock bisa menguasai 1,2 juta BTC pada Mei 2026.
Metaplanet, perusahaan asal Jepang yang juga agresif membeli BTC, mengumumkan akuisisi 2.205 BTC senilai USD 238,7 juta atau sekitar Rp 4 triliun dengan harga rata-rata USD 108.237 per Bitcoin. Dengan akumulasi total 15.555 BTC, Metaplanet kini menjadi pemilik BTC terbesar kelima di dunia menurut BitcoinTreasuries.
Namun demikian, harga Bitcoin justru belum mampu menembus resistance kuat di kisaran USD 112.000 (Rp 1,88 miliar). Penyebabnya? Salah satunya adalah tekanan makroekonomi dari kebijakan Presiden Donald Trump yang mengumumkan tarif baru terhadap 14 negara, termasuk Jepang dan Korea Selatan.
Tarif balasan ini akan berlaku mulai 1 Agustus 2025, memicu kekhawatiran pelambatan perdagangan global dan membuat pasar lebih hati-hati terhadap aset risiko tinggi seperti kripto.
Di saat institusi besar masuk, tekanan jual justru datang dari para whale lama alias investor awal Bitcoin. Bloomberg melaporkan bahwa selama setahun terakhir, lebih dari 500.000 BTC telah dijual oleh para whale, jumlah yang hampir menyamai akumulasi bersih dari seluruh ETF Bitcoin selama periode yang sama. Salah satu whale bahkan memindahkan 80.000 BTC pekan ini, menimbulkan spekulasi bahwa aksi jual besar masih berlanjut.
Tak hanya itu, menurut data CryptoQuant yang dikutip News.Bitcoin, para long-term holder (LTH) kini sedang menikmati keuntungan tak terealisasi sebesar 215% dari harga rata-rata beli mereka.
Secara historis, ketika profit LTH melewati ambang 300%, mereka mulai melepas BTC ke pasar untuk merealisasikan cuan. Saat ini, pasar berada di fase “profit-taking teratur”, yang belum mencapai euforia tapi cukup rawan terjadi distribusi besar.
Kondisi pasar yang stagnan juga diperlihatkan dari pergerakan BTC yang terjebak dalam rentang sempit USD 107.500–109.600. Meskipun harga masih bertahan di atas moving average utama (50, 100, dan 200 periode), volume perdagangan cenderung rendah. Ini mencerminkan kebingungan pelaku pasar antara aksi beli lanjutan atau koreksi teknikal.
“Selama BTC belum berhasil menembus USD 109.300 dengan volume kuat, pasar masih sideways,” kata analis teknikal Axel Adler. Ia menambahkan bahwa tekanan jual tetap tinggi, dan bila support di USD 107.000 gagal bertahan, harga bisa menguji ulang zona penting di USD 103.600 (sekitar Rp 1,73 miliar).
Meski demikian, latar belakang makro tetap mendukung Bitcoin dalam jangka menengah. Pasar saham Amerika Serikat mencetak rekor baru dan ketegangan geopolitik mulai mereda, memberi ruang bagi investor untuk kembali melirik aset berisiko.
Namun hingga saat ini, semua mata tetap tertuju pada level krusial USD 112.000. Jika berhasil ditembus dengan dukungan volume yang kuat, maka Bitcoin berpotensi masuk fase “price discovery” baru. Sebaliknya, kegagalan breakout bisa memicu koreksi teknikal yang cukup dalam.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
