Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Maret 2026, 23.35 WIB

Konsentrasi Kuasa di Era AI: Larry Fink Peringatkan Risiko Ketimpangan Global di Tengah Dominasi Raksasa Teknologi

Larry Fink menyatakan perusahaan dengan data, infrastruktur, dan pendanaan besar untuk AI "berpotensi mendapat manfaat tidak proporsional" (The Guardian) - Image

Larry Fink menyatakan perusahaan dengan data, infrastruktur, dan pendanaan besar untuk AI "berpotensi mendapat manfaat tidak proporsional" (The Guardian)

JawaPos.com - Akselerasi kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya menandai babak baru dalam inovasi teknologi global, tetapi juga memicu kekhawatiran serius terkait distribusi kekayaan. Di tengah agresivitas ekspansi perusahaan teknologi raksasa, indikasi konsentrasi nilai ekonomi semakin menguat di tangan segelintir pelaku pasar.

Transformasi ini berlangsung dalam lanskap yang semakin kompetitif secara geopolitik. AI telah beralih fungsi dari sekadar alat produktivitas menjadi pilar utama persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok, terutama dalam penguasaan data, komputasi awan, dan semikonduktor.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (24/3/2026), CEO BlackRock, Larry Fink, menegaskan bahwa akumulasi kekayaan di era AI berisiko mengulang pola ketimpangan lama dalam skala lebih besar. "Kekayaan besar yang tercipta selama beberapa generasi terakhir sebagian besar mengalir kepada mereka yang telah memiliki aset keuangan," ujarnya. "Kini AI mengancam akan mengulang pola tersebut dalam skala yang jauh lebih besar."

Fink juga menyoroti kecenderungan konsolidasi kekuatan ekonomi pada segelintir perusahaan berkapasitas teknologi tinggi. "Perusahaan yang memiliki data, infrastruktur, dan pendanaan untuk menerapkan AI dalam skala besar berada pada posisi untuk mendapatkan manfaat secara tidak proporsional," ujarnya. Artinya, tingginya hambatan masuk membuat pemain baru sulit mengejar ketertinggalan.

Sejalan dengan itu, dalam beberapa tahun terakhir dinamika pasar telah mencerminkan kecenderungan tersebut. Saham teknologi berbasis AI mencatat lonjakan signifikan, dengan Nvidia sebagai contoh paling mencolok. Perusahaan ini kini memiliki valuasi sekitar USD 4,3 triliun setara Rp 72.670 triliun (kurs Rp 16.900 per dolar AS) yang sekaligus menegaskan kuatnya akumulasi nilai di sektor ini.

Meski demikian, Fink menilai konsentrasi keuntungan bukan hal baru dalam kapitalisme teknologi. "Sejarah menunjukkan bahwa teknologi transformatif menciptakan nilai sangat besar dan sebagian besar mengalir kepada perusahaan yang mengembangkan dan mengoperasikannya, serta para investornya," ujarnya. Dia menegaskan, "Fenomena ini bukan sesuatu yang tidak biasa, dan tidak secara inheren bermasalah."

Namun, dia menegaskan bahwa isu utama terletak pada akses terhadap pertumbuhan tersebut. "Pertanyaan yang lebih luas adalah siapa yang ikut berpartisipasi dalam keuntungan ini," kata Fink. "Ketika kapitalisasi pasar meningkat tetapi kepemilikan tetap sempit, kemakmuran akan terasa semakin jauh bagi mereka yang berada di luar," tuturnya.

Tak hanya itu, kekhawatiran atas fondasi pertumbuhan AI juga mengemuka dari otoritas keuangan. Bank of England sebelumnya memperingatkan adanya risiko "koreksi mendadak" di pasar global seiring lonjakan valuasi perusahaan teknologi AI. Pola ini dinilai memiliki kemiripan dengan dinamika yang mendahului pecahnya gelembung dotcom pada awal 2000-an.

Selain itu, praktik investasi silang di antara perusahaan AI besar menambah kompleksitas risiko. Keterlibatan Nvidia dalam pendanaan perusahaan yang kemudian menjadi pembeli produknya sendiri memicu kekhawatiran tentang keberlanjutan permintaan dan transparansi valuasi, indikasi bahwa sebagian pertumbuhan mungkin didorong oleh siklus internal industri.

Dalam merespons dinamika tersebut, Fink tidak menawarkan solusi kebijakan. Dia hanya menekankan perluasan partisipasi di pasar keuangan. "Jika kemakmuran semakin banyak diciptakan di pasar modal, maka bagian dari jawabannya adalah memastikan lebih banyak orang berinvestasi di dalamnya," ujarnya. Dia menambahkan, "Sulit untuk tidak berempati dengan mereka yang menghadapi kondisi ini."

Selain itu, dia menyoroti dampak psikologis dari ketimpangan yang kian melebar. "Ketika seseorang tidak lagi melihat pekerjaan sebagai jalan menuju keberhasilan, merasa mustahil memiliki rumah, atau bahkan menilai kepemilikan aset tidak lagi menjanjikan peningkatan kesejahteraan, maka ekonomi akan terasa tidak berpihak," ujarnya. Dia menegaskan, "Tidak ada negara yang dapat mencapai kemakmuran jika warganya memiliki persepsi demikian."

Sebagai penutup, Fink menekankan dilema utama yang akan menentukan arah ekonomi global ke depan. "Satu hal yang jelas, AI akan menciptakan nilai ekonomi yang signifikan. Memastikan partisipasi dalam pertumbuhan tersebut berkembang seiring dengannya adalah tantangan sekaligus peluang." Dalam konteks ini, pertarungan tidak lagi sekadar soal inovasi, melainkan tentang siapa yang benar-benar memiliki akses terhadap hasilnya.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore