Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Maret 2025 | 23.59 WIB

Saham Nvidia Alami Death Cross, Akankah Token Kripto AI Ikut Anjlok?

Ilustrasi saham Nvidia. (247wallst.com) - Image

Ilustrasi saham Nvidia. (247wallst.com)

JawaPos.com – Saham raksasa chip pembuat GPU, Nvidia (NVDA), tengah memberikan sinyal teknikal bearish yang mengkhawatirkan: death cross. Pola ini muncul saat rata-rata pergerakan 50 hari menembus ke bawah rata-rata pergerakan 200 hari—sering kali dianggap sebagai awal dari tren turun signifikan.

Dikutip dari Cointelegraph, pola death cross terakhir kali muncul pada April 2022 dan menyebabkan harga saham Nvidia anjlok hingga 47 persen dalam enam bulan berikutnya.

Sinyal ini memunculkan kekhawatiran baru di kalangan trader kripto, khususnya pada sektor token berbasis kecerdasan buatan (AI) yang selama ini kerap mengikuti pergerakan saham Nvidia.

Meski begitu, respons pasar kripto sejauh ini belum menunjukkan korelasi langsung. Beberapa token AI justru mencatatkan kenaikan sejak sinyal itu muncul pada Kamis (21/3).

Token Render (RNDR) naik 4,06 persen menjadi USD 3,33 (Rp 53.946), Bittensor (TAO) naik 2,88 persen menjadi USD 254,79 (Rp 4.129.998), dan Artificial Superintelligence Alliance (FET) juga naik sekitar 2,88 persen ke USD 0,5131 (Rp 8.314).

Walaupun saham Nvidia sebelumnya sempat jadi pemicu euforia token AI—seperti saat melonjak 70 persen menjelang laporan keuangan Q2 2024—nyatanya tidak semua lonjakan harga NVDA selalu diikuti oleh kripto AI.

Ketika Nvidia mencatat lonjakan pendapatan 18 persen pada Q1 2024, banyak trader AI kripto justru kecewa karena harga token tidak ikut naik.

Sejumlah analis dan trader kini mulai skeptis terhadap kelanjutan hype AI dalam kripto. Trader kripto CryptoCosta menulis di X bahwa "hype AI sudah lewat, sekarang saatnya proyek dengan solusi nyata dan pendapatan yang akan bertahan." Sepanjang sebulan terakhir, kapitalisasi pasar token AI dan big data mengalami penurunan hingga 23,70 persen.

Token dengan kapitalisasi pasar terbesar di sektor ini, Near Protocol (NEAR), bahkan sudah terkoreksi hampir 59 persen dalam 12 bulan terakhir, kini diperdagangkan di harga sekitar USD 2,70 atau Rp 43.740.

Namun, tidak semua pelaku pasar bersikap pesimis. Hasil survei CoinGecko terhadap 2.632 responden pada Februari–Maret menunjukkan 44,3 persen masih bullish terhadap masa depan token AI kripto di 2025. Sebanyak 25 persen menyatakan sangat optimistis, dan 19,3 persen lainnya cukup yakin.

Di sisi lain, 26,3 persen responden mengaku agak bearish atau bahkan sepenuhnya pesimis. Sementara 29 persen berada di posisi netral.

Mantan CEO Binance, Changpeng “CZ” Zhao, juga angkat suara dalam diskusi ini. Ia menyatakan bahwa kripto memang cocok menjadi mata uang bagi ekosistem AI, namun tidak semua agen AI membutuhkan token sendiri.

“Gunakan token hanya jika punya skala besar. Fokus pada utilitas, bukan sekadar token,” ujarnya.

Laporan investasi dari Sygnum pada Februari lalu juga menyatakan bahwa meski agen AI menunjukkan pertumbuhan cepat, mereka masih "berjuang membuktikan nilai di luar spekulasi."

Munculnya sinyal bearish dari saham Nvidia belum serta-merta menyeret harga token AI ke bawah. Namun dengan menurunnya minat spekulatif dan tekanan makroekonomi global, proyek-proyek AI kripto kini dituntut untuk menunjukkan nilai nyata—bukan hanya mengandalkan hype.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore