Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 Oktober 2025 | 17.43 WIB

Bitcoin dan S&P 500 Masuk Fase Bull Terakhir, Arah Pasar Ditentukan Hasil Laporan Keuangan Q4

Ilustrasi Bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi Bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Harga Bitcoin (BTC) masih bertahan di kisaran USD 109.300 atau sekitar Rp 1,8 miliar, di tengah gejolak pasar yang belum mereda sejak aksi jual besar pada 10 Oktober lalu. Para analis menilai fase saat ini menjadi titik krusial yang akan menentukan apakah pasar Kripto akan melanjutkan reli atau justru memasuki koreksi besar.

Dikutip dari Bitcoinist, Jumat (24/10), analis pasar keuangan Axel Adler menilai bahwa baik Bitcoin maupun indeks S&P 500 kini berada dalam fase yang disebutnya sebagai “late bull phase”, fase akhir dari siklus kenaikan sebelum potensi pendinginan pasar.

Adler menjelaskan bahwa S&P 500 mencatat imbal hasil 52 minggu sebesar +13%, menandakan pasar global masih dalam suasana risk-on, dengan investor tetap berani menaruh dana pada aset berisiko seperti saham dan Kripto.

Korelasi antara Bitcoin dan S&P 500 saat ini berada di 0,26, menunjukkan bahwa keduanya masih bergerak ke arah yang sama, meskipun tidak sepenuhnya seirama. “Faktor makro seperti kebijakan moneter dan kinerja perusahaan masih memengaruhi Bitcoin, namun dinamika internal seperti likuiditas dan posisi derivatif juga menjadi penentu penting,” ujar Adler.

Namun, ia mengingatkan bahwa jika sentimen pasar saham mendingin akibat faktor geopolitik atau pengetatan moneter, dampaknya bisa langsung terasa di pasar Kripto.

Menurut Adler, kuartal keempat 2025 akan menjadi masa transisi penting bagi pasar tradisional dan aset digital. Setelah hampir dua tahun mengalami pertumbuhan hasil dan kebijakan moneter ketat, fokus kini beralih dari ekspektasi menuju kinerja nyata perusahaan (earnings).

Hingga saat ini, 58 perusahaan besar yang sudah melaporkan kinerja kuartal ketiga justru mengalahkan perkiraan analis dengan rata-rata margin 571 basis poin. Pertumbuhan laba yang awalnya diprediksi 7% kini meningkat menjadi 8%, memperkuat pandangan bahwa pasar masih berada di tahap akhir dari siklus bullish.

Namun, fase ini juga menandai munculnya risiko tersembunyi. Mulai dari valuasi yang terlalu tinggi hingga penurunan likuiditas global. Adler menilai, pola ini mencerminkan optimisme jangka pendek dengan fondasi yang rapuh.

“Kondisi saat ini menunjukkan perilaku pasar di akhir siklus bullish. Jika laporan keuangan terus positif, momentum bisa berlanjut. Tapi jika sentimen global memburuk, koreksi besar bisa terjadi, termasuk di Bitcoin,” kata Adler.

Secara teknikal, grafik tiga hari Bitcoin menunjukkan pola konsolidasi antara USD 106.000 (Rp 1,749 miliar) dan USD 117.500 (Rp 1,94 miliar), dengan area atas menjadi resistance kuat sejak pertengahan September.

Level USD 117.500 merupakan titik volume tertinggi (Point of Control) dari periode Agustus–September dan menjadi batas yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya. Jika Bitcoin berhasil menembus level ini, harga berpotensi menuju USD 123.000 (Rp 2,03 miliar), di mana terdapat banyak likuiditas dan posisi short yang bisa dilikuidasi.

Sebaliknya, penolakan di area USD 111.000–USD 112.000 (Rp 1,83–Rp 1,85 miliar) dapat memperpanjang fase konsolidasi atau bahkan menimbulkan koreksi ke USD 105.000 (Rp 1,73 miliar).

Adler menyimpulkan bahwa Bitcoin saat ini berada di posisi netral–bullish, namun kepercayaan pasar masih rapuh. “Beberapa sesi ke depan akan menentukan apakah Bitcoin mampu melanjutkan reli, atau justru menghadapi fase pendinginan bersama pasar global,” ujarnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore