Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Agustus 2025 | 17.07 WIB

Ethereum Jatuh, Trader Top Ambruk, ETF Ditinggal Investor, Ini Penyebabnya

Ilustrasi harga Ethereum yang masih mengelami koreksi atau pelemahan. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Pasar kripto kembali menunjukkan betapa brutal dan tak terduganya pergerakan harga. Seorang trader legendaris Ethereum yang sempat mencatatkan keuntungan luar biasa dari modal USD 125.000, kini harus menyaksikan kekayaannya nyaris lenyap setelah harga Ethereum terkoreksi tajam dalam sepekan terakhir.

Dikutip dari bitcoinist, Jumat (22/8), trader yang tak disebutkan namanya ini dikenal publik karena berhasil mengubah modal awal sekitar Rp 2 miliar menjadi lebih dari USD 43 juta atau Rp 701,9 miliar. Ia meraih keuntungan tersebut lewat serangkaian strategi long di Ethereum yang sangat tepat waktu.

Bahkan baru-baru ini, ia sempat menutup posisi long sebesar 66.749 ETH senilai USD 303 juta dan mencatat profit USD 6,86 juta (sekitar Rp 111,6 miliar), yang berarti 55 kali lipat dari modal awalnya.

Namun semua kejayaan itu hanya bertahan sejenak. Ketika harga Ethereum terkoreksi sekitar 10 persen minggu ini, trader tersebut kembali membuka posisi long yang ternyata berujung pada kehancuran.

Koreksi harga menyebabkan leverage-nya terlikuidasi dan ia kehilangan sekitar USD 42 juta atau setara Rp 684,6 miliar. Kini, saldo akun tradingnya tersisa USD 771.000 atau sekitar Rp 12,5 miliar, jauh dari puncak kekayaannya.

Kisah ini menjadi pengingat keras betapa tingginya risiko dalam pasar kripto, terutama jika terlalu agresif memanfaatkan leverage. Dalam waktu dua hari, empat bulan keuntungan sirna, memperlihatkan betapa cepatnya pasar bisa berbalik arah.

Analis dari Fundstrat, Mark Newton, mencoba menenangkan pasar. Dalam laporan terbarunya kepada CIO Fundstrat Thomas Lee, ia menilai bahwa penurunan harga Ethereum saat ini masih tergolong sehat.

Ia menyebut bahwa konsolidasi harga ETH di kisaran USD 4.075 hingga USD 4.150 masih masuk akal dan sesuai pola teknikal Elliott Wave. Bahkan, menurut Newton, Ethereum masih punya potensi untuk naik menuju all-time high baru di kisaran USD 5.100 atau sekitar Rp 83,1 juta.

Namun, tekanan pasar tak hanya datang dari sisi teknikal. News.bitcoin.com, Jumat (22/8), melaporkan bahwa dalam empat hari terakhir, dana institusional terus mengalir keluar dari ETF kripto, baik Bitcoin maupun Ethereum. Totalnya mencapai USD 1,9 miliar atau sekitar Rp 31 triliun.

Pada Rabu (20/8) saja, ETF Bitcoin mencatat arus keluar sebesar USD 311 juta. ETF milik Blackrock (IBIT) paling banyak ditinggalkan investor dengan outflow mencapai USD 220 juta. Ark 21Shares juga mencatat outflow USD 75 juta, disusul Grayscale dan Fidelity. Satu-satunya yang masih mencatat arus masuk hanyalah Bitwise BITB, dengan nilai kecil USD 619.000.

Sementara itu, ETF Ethereum mencatat kerugian yang tak kalah besar, yaitu USD 240 juta. ETF Blackrock untuk Ethereum bahkan ditinggalkan hingga USD 257 juta, hanya sedikit tertolong oleh inflow dari Grayscale dan Fidelity.

Gelombang penarikan dana besar-besaran ini menunjukkan bahwa investor institusional tengah menghindari risiko akibat ketidakpastian makroekonomi dan sinyal koreksi pasar kripto. Padahal, sebelumnya aliran dana masuk ke ETF sempat mencetak rekor baru dalam beberapa pekan terakhir.

Meski banyak yang berharap koreksi ini hanya bersifat sementara, kisah sang trader legendaris dan gelombang outflow dari ETF menjadi peringatan penting. Di pasar kripto, kejayaan bisa datang secepat kehancuran—terutama bagi mereka yang terlalu percaya diri saat pasar mulai goyah.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore