
RAWAT INAP: Perawat Ruang Anggrek RSUD Ibnu Sina Retno Yuniati membetulkan posisi tidur Zainal didampingi Arin, ibunya.
JawaPos.com – Sudah dua minggu Muhammad Zainal Faruq batuk. Meski sudah minum obat, batuknya tidak kunjung sembuh. Minggu lalu (7/5) Afandi dan Arin Mir’atul Faizah membawa buah hatinya ke rumah sakit. ”Saat itu, dokter menyatakan kondisi anak saya tidak apa-apa. Dokter hanya memberi obat,” kata Afandi.
Namun, obat yang diberikan dokter itu dirasa tidak mempan. Senin lalu (8/5) batuknya semakin menjadi. Muncul gejala demam yang muncul. ”Batuknya kering. Demamnya sampai 40 derajat Celsius,” lanjutnya saat ditemui di Ruang Anggrek RSUD Ibnu Sina kemarin (9/5).
Kemarin warga Kecamatan Duduksampeyan itu lantas membawa Zainal ke puskesmas. Sebab, Muncul gejala lain. Napas Zainal tersengal-sengal. Melihat kondisi itu, petugas puskesmas lantas memberikan rujukan ke RSUD Ibnu Sina.
Tiba di RS, Zainal langsung masuk ruang instalasi gawat darurat (IGD). Slang oksigen segera dipasang. Bayi tujuh bulan itu menjalani terapi dengan alat nebulizer. Tujuannya mengeluarkan dahak pada bayi tersebut.
Tepat pukul 11.30, Zainal menjalani foto rontgen. Hasilnya, Zainal didiagnosis menderita pneumonia(radang paru-paru). Bungsu di antara dua bersaudara itu harus menjalani perawatan lebih intensif untuk menyembuhkan penyakit di organ parunya. Afandi mengaku lingkungan di sekitar tempat tinggalnya tergolong kurang bagus. Polusi udara seolah menjadi pemandangan yang biasa. Sebab, daerah Duduksampeyan termasuk jalur tengkorak. ”Truk-truk besar setiap hari lewat. Debunya banyak,” katanya.
Selain itu, lelaki pekerja pabrik tersebut mengaku punya kebiasaan buruk. Yakni, merokok. ”Tapi, tidak pernah merokok di rumah. Kalau merokok, di luar (rumah, Red),” ungkapnya.
Jumlah pasien pnuemonia anak yang dirawat di Ruang Anggrek RSUD Ibnu Sina terbilang banyak. Pada trimester pertama, terhitung sudah ada 16 anak yang menjalani rawat inap. Dokter spesialis anak RSUD Ibnu Sina dr Wiweka Merbawani SpA menyebut polusi udara maupun asap rokok bukan penyebab utama pneumonia. Namun, dua hal tersebut bisa memperburuk kondisi penderita. ”Penyebab utamanya virus atau bakteri,” terangnya.
Kasus pneumonia pada anak dan balita cenderung lebih banyak daripada orang dewasa. Sebab, daya tahan tubuh anak lebih rendah ketimbang orang dewasa. Apalagi jika kondisi udara di lingkungannya buruk. ”Kondisi anak (penderita pneumonia, Red) akan memburuk,” ujarnya.
Wiweka menyatakan, sesak napas menjadi gejala khas pneumonia. Jika tidak segera ditangani, bisa terjadi gagal napas. Hal itu menjadi pemicu kematian anak dan balita akibat pneumonia.
Karena itu, lanjut dia, penanganan yang tepat harus diberikan untuk menghindari risiko terburuk. Penderita harus segera mendapatkan oksigen. ”Selanjutnya, penanganan berfokus pada virus atau bakteri penyebab pneumonia,” imbuhnya. (adi/c6/ai)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
