Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 10 Mei 2017 | 23.22 WIB

Balita Tujuh Bulan Derita Pneumonia, Perlu Jalani Perawatan Intensif

RAWAT INAP: Perawat Ruang Anggrek RSUD Ibnu Sina Retno Yuniati membetulkan posisi tidur Zainal didampingi Arin, ibunya. - Image

RAWAT INAP: Perawat Ruang Anggrek RSUD Ibnu Sina Retno Yuniati membetulkan posisi tidur Zainal didampingi Arin, ibunya.


JawaPos.com – Sudah dua minggu Muhammad Zainal Faruq batuk. Meski sudah minum obat, batuknya tidak kunjung sembuh. Minggu lalu (7/5) Afandi dan Arin Mir’atul Faizah membawa buah hatinya ke rumah sakit. ”Saat itu, dokter menyatakan kondisi anak saya tidak apa-apa. Dokter hanya memberi obat,” kata Afandi.



Namun, obat yang diberikan dokter itu dirasa tidak mempan. Senin lalu (8/5) batuknya semakin menjadi. Muncul gejala demam yang muncul. ”Batuknya kering. Demamnya sampai 40 derajat Celsius,” lanjutnya saat ditemui di Ruang Anggrek RSUD Ibnu Sina kemarin (9/5).



Kemarin warga Kecamatan Duduksampeyan itu lantas membawa Zainal ke puskesmas. Sebab, Muncul gejala lain. Napas Zainal tersengal-sengal. Melihat kondisi itu, petugas puskesmas lantas memberikan rujukan ke RSUD Ibnu Sina.



Tiba di RS, Zainal langsung masuk ruang instalasi gawat darurat (IGD). Slang oksigen segera dipasang. Bayi tujuh bulan itu menjalani terapi dengan alat nebulizer. Tujuannya mengeluarkan dahak pada bayi tersebut.



Tepat pukul 11.30, Zainal menjalani foto rontgen. Hasilnya, Zainal didiagnosis menderita pneumonia(radang paru-paru). Bungsu di antara dua bersaudara itu harus menjalani perawatan lebih intensif untuk menyembuhkan penyakit di organ parunya. Afandi mengaku lingkungan di sekitar tempat tinggalnya tergolong kurang bagus. Polusi udara seolah menjadi pemandangan yang biasa. Sebab, daerah Duduksampeyan termasuk jalur tengkorak. ”Truk-truk besar setiap hari lewat. Debunya banyak,” katanya.



Selain itu, lelaki pekerja pabrik tersebut mengaku punya kebiasaan buruk. Yakni, merokok. ”Tapi, tidak pernah merokok di rumah. Kalau merokok, di luar (rumah, Red),” ungkapnya.



Jumlah pasien pnuemonia anak yang dirawat di Ruang Anggrek RSUD Ibnu Sina terbilang banyak. Pada trimester pertama, terhitung sudah ada 16 anak yang menjalani rawat inap. Dokter spesialis anak RSUD Ibnu Sina dr Wiweka Merbawani SpA menyebut polusi udara maupun asap rokok bukan penyebab utama pneumonia. Namun, dua hal tersebut bisa memperburuk kondisi penderita. ”Penyebab utamanya virus atau bakteri,” terangnya.



Kasus pneumonia pada anak dan balita cenderung lebih banyak daripada orang dewasa. Sebab, daya tahan tubuh anak lebih rendah ketimbang orang dewasa. Apalagi jika kondisi udara di lingkungannya buruk. ”Kondisi anak (penderita pneumonia, Red) akan memburuk,” ujarnya.



Wiweka menyatakan, sesak napas menjadi gejala khas pneumonia. Jika tidak segera ditangani, bisa terjadi gagal napas. Hal itu menjadi pemicu kematian anak dan balita akibat pneumonia.



Karena itu, lanjut dia, penanganan yang tepat harus diberikan untuk menghindari risiko terburuk. Penderita harus segera mendapatkan oksigen. ”Selanjutnya, penanganan berfokus pada virus atau bakteri penyebab pneumonia,” imbuhnya. (adi/c6/ai)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore