
Ilustrasi anak belajar Bahasa Inggris. (Freepik)
JawaPos.com - Masih banyak orang tua dan guru yang salah menilai anak pengidap disleksia. Mereka sering didorong untuk lebih rajin belajar. Padahal, anak kesulitan membaca maupun berhitung lantaran masalah neurologis.
"Biasanya sering dianggap ayo harus lebih rajin lagi, ayo jangan malas, jangan ogah-ogahan. Padahal, sebetulnya kondisi ini membutuhkan pendekatan dan dukungan yang berbeda," kata Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp. T.K.P.S.(K) kepada wartawan, Rabu (16/9).
Oleh karena itu, menurutnya penting untuk guru maupun orang tua mengenal tanda-tanda anak mengalami disleksia.
Ia memaparkan, pada anak usia kelas 1-3 SD, tanda disleksia bisa berupa anak sulit belajar huruf dan bunyi, sulit mengeja atau membaca kata, menghindari kegiatan membaca dan menulis, serta memiliki hasil tes lisan yang jauh lebih baik daripada tes tertulis.
Adapun pada usia kelas 4-6 SD, tanda disleksia terlihat dari nilai mata pelajaran tertentu yang konsisten rendah, padahal anak tampak paham saat dijelaskan. Anak juga butuh waktu sangat lama untuk mengerjakan PR dan sering menangis saat ujian.
Selain itu, ada tanda emosional atau perilaku seperti anak mudah marah saat diminta belajar, kepercayaan diri rendah, menghindari tugas akademik, dan mencari alasan tidak masuk sekolah. Dalam jangka panjang, anak bahkan bisa mengalami gejala cemas atau depresi karena pengalaman gagal berulang.
Jika anak mengalami tanda-tanda tersebut secara konsisten selama enam bulan, dr. Farid menyarankan anak dibawa ke tenaga kesehatan.
Dengan begitu, anak yang terbukti mengalami disleksia akan diberikan intervensi, baik berupa pendidikan khusus, modifikasi belajar di sekolah, maupun dukungan belajar di rumah.
dr. Farid juga menyoroti mitos yang menyebut bahwa anak dengan disleksia memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Menurutnya, hal itu tak benar. Anak yang mengalami disleksia memiliki IQ yang sama dengan anak lainnya.
"Hindari memberi label dan tekankan di diri sendiri, orang tua, bahwa anak SLD (Spesific Learning Disorder/Gangguan Belajar Spefisik) itu otaknya bekerja dengan cara yang berbeda. Bukan kurang cerdas," pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Prediksi Skor Al-Hilal vs Al-Gharafa di Liga Champions Asia: Gabriel Martinelli Cetak Gol Lagi!
Prediksi Genoa vs Sudtirol: Rotasi De Rossi Jadi Sorotan, Laga Coppa Italia Bisa Berlangsung Sengit
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Osasuna di Liga Spanyol: Los Colchoneros Menang di Metropolitano

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022