Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 12 September 2026 | 04.18 WIB

Abu Vulkanik Bisa Sebabkan Peradangan Jika Masuk ke Saluran Napas Kecil

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terhirup bisa menyebabkan peradangan apabila terhirup hingga ke saluran napas kecil.  (IST) - Image

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terhirup bisa menyebabkan peradangan apabila terhirup hingga ke saluran napas kecil.  (IST)

JawaPos.com – Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terhirup bisa menyebabkan peradangan apabila terhirup hingga ke saluran napas kecil. 

Diungkapkan dr. Sondang Ruth Angelia Sirait, M.Ked.(Paru), Sp.P, Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Gading Serpong, secara umum, semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh partikel dapat masuk ke saluran pernapasan. Termasuk debu abu vulkanik.

Perlu diketahui, abu vulkanik terdiri dari campuran partikel dengan ukuran dan komposisi yang beragam. Sebagian fraksi abu yang tersuspensi di udara dapat berada dalam rentang particulate matter (PM).

PM10 adalah partikel dengan diameter aerodinamik 10 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Sementara itu, PM2.5 memiliki diameter aerodinamik 2,5 mikrometer atau lebih kecil dan dapat menembus lebih dalam hingga ke saluran napas kecil di paru.

“Sebagian partikel yang sangat halus dapat mencapai saluran napas kecil yang disebut alveolus yang akan menyebabkan peradangan dan stres oksidatif,” jelas dr. Sondang dalam keterangannya baru-baru ini.

Ukuran Partikel Bukan Faktor Tunggal Pengganggu Kesehatan

Dampak abu vulkanik memang bisa berdampak buruk pada kesehatan. Tapi bukan hanya ukuran partikel yang masuk ke saluran napas, yang bisa menyebabkan perburukan kesehatan seseorang. Tetapi juga konsentrasi Abu vulkanik di udara, lama paparan, komposisi mineral dan kimia abu, serta kondisi kesehatan individu juga memengaruhi.

Dipaparkan dr. Sondang, paparan abu vulkanik dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, rasa tidak nyaman di dada, mengi, hingga sesak napas. Selain pada saluran napas dapat menyebabkan gangguan pada mata dan kulit. 

Pada penderita asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau penyakit paru kronik lainnya, paparan abu dapat memicu atau memperberat gejala.

“Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit paru atau kardiovaskular perlu lebih berhati-hati karena dapat lebih rentan terhadap dampak paparan partikel di udara,” sambungnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore