
Samsidar, warga Aceh Selatan, merasakan betul manfaat layanan JKN saat putranya harus dirawat di rumah sakit. Masyarakat tidak perlu takut berobat jika sakit. (Istimewa)
JawaPos.com - Tak jarang saat anak harus menjalani pengobatan di rumah sakit, mereka menjadi rewel dan takut untuk menjalaninya. Namun, rasa takut anak saat harus berobat ke rumah sakit ternyata tidak muncul begitu saja. Orang tua justru memegang peran paling besar dalam membentuk persepsi anak terhadap rumah sakit.
Cara orang tua menjelaskan tujuan pemeriksaan hingga sikap mereka saat mendampingi anak menjadi kunci agar Si Kecil tidak trauma ketika harus mendapatkan perawatan medis.
Dokter Spesialis Anak Siloam Hospitals TB Simatupang dr. Jessica Sugiharto, Sp.A mengatakan, ketakutan anak umumnya muncul karena mereka sudah membayangkan hal-hal yang menakutkan akan terjadi sebelum tiba di rumah sakit. Gambaran tersebut sering kali berasal dari lingkungan terdekat, terutama orang tua.
"Jadi sebenarnya anak takut itu dia di dalam pikirannya sudah membayangkan apa yang mungkin akan terjadi. Jadi nomor satu itu yang kita edukasi selalu dari orang tua. Karena biasanya yang membuat gambaran ketakutan itu adalah dari orang tua," ujar dr. Jessica kepada wartawan, Rabu (29/7).
Menurutnya, orang tua sebaiknya menjelaskan kepada anak alasan mereka perlu datang ke rumah sakit dengan bahasa yang mudah dipahami. Untuk anak yang sudah lebih besar, ajak mereka berdiskusi mengenai tujuan pemeriksaan maupun tindakan medis yang akan dilakukan.
"Anak-anak yang sudah agak besar bisa diajak diskusi, kenapa kita melakukan ini, kenapa harus seperti ini, dan apa yang terjadi kalau tidak dilakukan. Itu harus dijabarkan," jelas dr. Jessica
Selain peran keluarga, ia menyebut bahwa rumah sakit juga perlu menciptakan suasana yang ramah anak agar mereka merasa lebih nyaman sejak pertama datang. dr. Jessica mengatakan, keberadaan area bermain, buku, hingga berbagai permainan sederhana dapat membantu mengurangi kecemasan anak sebelum bertemu dokter.
Ia menjelaskan, di poli anak tenaga medis juga tidak langsung melakukan pemeriksaan atau vaksinasi. Sebaliknya, anak diajak berinteraksi dan bermain terlebih dahulu agar lebih rileks.
"Biasanya kita ajak ngobrol dulu anaknya. Banyak tempat bermain, buku, dan mainan yang membuat anak lebih rileks. Saat vaksinasi pun perhatian anak dialihkan, misalnya diberi mainan atau diajak mengobrol, baru kemudian dilakukan penyuntikan," katanya.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
