Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Juli 2026 | 22.51 WIB

Kondisi Mata Minus dan Silinder yang Sudah Tak Bisa Diatasi dengan Kacamata

Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals and Clinics dr. Sharita R. Siregar, SpM(K). (Istimewa) - Image

Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals and Clinics dr. Sharita R. Siregar, SpM(K). (Istimewa)

JawaPos.com - Tidak semua kondisi mata minus dan silinder dapat terus dikoreksi hanya dengan kacamata. Pada beberapa kasus, terutama ketika bentuk kornea mengalami perubahan yang tidak teratur, penggunaan kacamata tidak lagi mampu memberikan penglihatan yang tajam.

Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals and Clinics dr. Sharita R. Siregar, SpM(K) menjelaskan bahwa perubahan bentuk atau kelengkungan kornea dapat menyebabkan berbagai kelainan refraksi, mulai dari miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), hingga astigmatisme atau mata silinder. Dalam beberapa kondisi, ada yang dapat diatasi dengan kacamata.

"Namun pada astigmatisme (silinder) tidak teratur, cahaya dapat tersebar ke beberapa titik sehingga menimbulkan pandangan berbayang, distorsi, silau, dan halo," ujar dr. Sharita kepada wartawan, Rabu (29/7).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat ketajaman penglihatan tidak selalu bisa dipulihkan hanya dengan mengganti resep kacamata. Oleh karena itu, pasien memerlukan evaluasi menyeluruh untuk mengetahui apakah diperlukan tindakan bedah refraktif atau metode koreksi lain.

Pemeriksaan Menentukan Jenis Tindakan

dr. Sharita menegaskan bahwa tidak ada satu prosedur yang cocok untuk semua pasien. Pemilihan tindakan bergantung pada jenis gangguan refraksi, ketebalan dan bentuk kornea, stabilitas ukuran minus maupun silinder, kondisi permukaan mata, hingga anatomi mata secara keseluruhan.

Salah satu pilihan adalah LASIK yang bekerja dengan membuat lapisan tipis (flap) pada kornea menggunakan laser femtosecond. Setelah flap dibuka, laser excimer membentuk ulang kornea sesuai ukuran minus, plus, atau silinder pasien, kemudian flap dikembalikan ke posisi semula tanpa jahitan.

Pilihan lain adalah SMILE Pro, prosedur tanpa pembuatan flap kornea. Teknologi ini membentuk lapisan jaringan tipis di dalam kornea yang kemudian dikeluarkan melalui sayatan mikro sekitar 2–4 milimeter untuk mengubah kelengkungan kornea sesuai kebutuhan koreksi.

SMILE Pro menggunakan teknologi ZEISS VISUMAX 800 dengan paparan laser sekitar 8–10 detik per mata. Karena menggunakan sayatan yang lebih kecil, struktur permukaan kornea dinilai lebih terjaga dan risiko gangguan terkait flap dapat diminimalkan, termasuk membantu mengurangi keluhan mata kering pada sebagian pasien.

Selain itu, tersedia pula LASIK Xtra, yakni kombinasi LASIK dengan prosedur corneal cross-linking dalam satu tindakan. Setelah kornea dibentuk ulang menggunakan laser, dokter mengaplikasikan riboflavin (vitamin B2) dan mengaktifkannya dengan sinar ultraviolet A untuk memperkuat ikatan serat kolagen pada kornea.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore