Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Juni 2026 | 22.23 WIB

Melalui Konten Kreatif, Komdigi Dorong Masyarakat Hapus Stigma Tuberkulosis

Kegiatan KLINIK KLIK (Keluarga Indonesia Kuat): Penyintas Jadi Influencer – Bangun Komunitas, Sebarkan Konten, Lawan Stigma TB! diselenggarakan Komdigi di Kabupaten Probolinggo. (Istimewa) - Image

Kegiatan KLINIK KLIK (Keluarga Indonesia Kuat): Penyintas Jadi Influencer – Bangun Komunitas, Sebarkan Konten, Lawan Stigma TB! diselenggarakan Komdigi di Kabupaten Probolinggo. (Istimewa)

JawaPos.com - Penanganan Tuberkulosis (TB) memerlukan peran aktif seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya pemerintah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat edukasi publik sekaligus mengurangi stigma terhadap penyintas TB melalui penyebaran informasi yang benar dan mudah dipahami.

Semangat tersebut diwujudkan dalam kegiatan KLINIK KLIK (Keluarga Indonesia Kuat): Penyintas Jadi Influencer – Bangun Komunitas, Sebarkan Konten, Lawan Stigma TB! Program itu diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo.

Tak hanya menjadi wadah diskusi mengenai fakta dan mitos seputar TB, acara ini juga membahas pentingnya pencegahan penyakit serta upaya menghilangkan stigma yang masih melekat pada penderita TB. Dalam sesi edukasi kesehatan, Dokter Spesialis Paru dan Konsultan Pulmonologi, dr. Iin Noor Chozin, menjelaskan bahwa TB merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan secara disiplin.

“Jika penderita TB disiplin minum obat sesuai dengan arahan dokter, dalam waktu dua minggu, potensi menularnya akan turun sampai 80%. Pasien sudah diperbolehkan beraktivitas tetap dengan menggunakan masker. Masyarakat tidak perlu takut tetapi berikan dukungan, temukan dan obati sampai sembuh,” kata dr. Noor Chozin di Probolinggo, Jawa Timur, dikutip Jumat (26/6).

Sementara itu, Ketua Tim Kelembagaan Komunikasi Pemerintah Komdigi, Angki Kusuma Dewi, yang hadir mewakili Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi, menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian TB membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

“TB bukan hanya persoalan kesehatan individu, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Edukasi, deteksi dini, kepatuhan pengobatan, serta dukungan sosial menjadi kunci penting dalam memutus rantai penularan dan meningkatkan angka kesembuhan,” kata Angki.

Tak hanya itu, penyintas TB sekaligus Inisiator Yayasan Rekat Peduli Indonesia Ani Herna Sari turut membagikan kisah selama menjalani pengobatan. Sekaligus tantangan menghadapi stigma sosial yang masih sering dialami penyintas.

“Kedisiplinan pengobatan membutuhkan dukungan kuat dari keluarga. Minum obat dalam waktu enam bulan tidak putus itu susah dan melelahkan, butuh pengingat dari orang-orang di sekitar pasien. Keluarga juga perlu membangkitkan semangat pasien agar terus punya harapan untuk sembuh,” tukas Ani.

Tak hanya berfokus pada edukasi kesehatan, kegiatan ini juga memberikan pelatihan pembuatan konten digital bertema Lawan Stigma Tuberkulosis. Sesi tersebut dipandu influencer Patrecia Thania yang membekali peserta dengan strategi menyusun pesan yang efektif serta memanfaatkan berbagai platform digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore