
Kegiatan KLINIK KLIK (Keluarga Indonesia Kuat): Penyintas Jadi Influencer – Bangun Komunitas, Sebarkan Konten, Lawan Stigma TB! diselenggarakan Komdigi di Kabupaten Probolinggo. (Istimewa)
JawaPos.com - Penanganan Tuberkulosis (TB) memerlukan peran aktif seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya pemerintah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat edukasi publik sekaligus mengurangi stigma terhadap penyintas TB melalui penyebaran informasi yang benar dan mudah dipahami.
Semangat tersebut diwujudkan dalam kegiatan KLINIK KLIK (Keluarga Indonesia Kuat): Penyintas Jadi Influencer – Bangun Komunitas, Sebarkan Konten, Lawan Stigma TB! Program itu diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo.
Tak hanya menjadi wadah diskusi mengenai fakta dan mitos seputar TB, acara ini juga membahas pentingnya pencegahan penyakit serta upaya menghilangkan stigma yang masih melekat pada penderita TB. Dalam sesi edukasi kesehatan, Dokter Spesialis Paru dan Konsultan Pulmonologi, dr. Iin Noor Chozin, menjelaskan bahwa TB merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan secara disiplin.
“Jika penderita TB disiplin minum obat sesuai dengan arahan dokter, dalam waktu dua minggu, potensi menularnya akan turun sampai 80%. Pasien sudah diperbolehkan beraktivitas tetap dengan menggunakan masker. Masyarakat tidak perlu takut tetapi berikan dukungan, temukan dan obati sampai sembuh,” kata dr. Noor Chozin di Probolinggo, Jawa Timur, dikutip Jumat (26/6).
Sementara itu, Ketua Tim Kelembagaan Komunikasi Pemerintah Komdigi, Angki Kusuma Dewi, yang hadir mewakili Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi, menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian TB membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
“TB bukan hanya persoalan kesehatan individu, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Edukasi, deteksi dini, kepatuhan pengobatan, serta dukungan sosial menjadi kunci penting dalam memutus rantai penularan dan meningkatkan angka kesembuhan,” kata Angki.
Tak hanya itu, penyintas TB sekaligus Inisiator Yayasan Rekat Peduli Indonesia Ani Herna Sari turut membagikan kisah selama menjalani pengobatan. Sekaligus tantangan menghadapi stigma sosial yang masih sering dialami penyintas.
“Kedisiplinan pengobatan membutuhkan dukungan kuat dari keluarga. Minum obat dalam waktu enam bulan tidak putus itu susah dan melelahkan, butuh pengingat dari orang-orang di sekitar pasien. Keluarga juga perlu membangkitkan semangat pasien agar terus punya harapan untuk sembuh,” tukas Ani.
Tak hanya berfokus pada edukasi kesehatan, kegiatan ini juga memberikan pelatihan pembuatan konten digital bertema Lawan Stigma Tuberkulosis. Sesi tersebut dipandu influencer Patrecia Thania yang membekali peserta dengan strategi menyusun pesan yang efektif serta memanfaatkan berbagai platform digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
