Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 23 Juni 2026 | 23.45 WIB

Benjolan Tiroid Kian Banyak Ditemukan, Metode Radiofrequency Ablation jadi Alternatif Selain Operasi

Ilustrasi: Dokter menangani pasien tiroid di rumah sakit. (Istimewa) - Image

Ilustrasi: Dokter menangani pasien tiroid di rumah sakit. (Istimewa)

JawaPos.com – Gangguan pada kelenjar tiroid menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup sering ditemukan, terutama dalam bentuk nodul atau benjolan di leher. Meski sebagian besar bersifat jinak, keberadaan nodul tetap dapat menimbulkan ketidaknyamanan, gangguan kosmetik, hingga kekhawatiran pasien terhadap risiko penyakit yang lebih serius.

Selama bertahun-tahun, operasi pengangkatan kelenjar tiroid atau thyroidectomy menjadi pilihan utama untuk menangani kondisi tersebut. Namun, perkembangan teknologi medis menghadirkan alternatif baru yang lebih minimal invasif, yakni Radiofrequency Ablation (RFA).

Metode ini menggunakan energi panas dari gelombang radiofrekuensi untuk menghancurkan jaringan nodul tanpa perlu mengangkat kelenjar tiroid secara keseluruhan. Dengan bantuan ultrasonografi (USG) secara real-time, dokter dapat menargetkan jaringan yang bermasalah secara lebih presisi.

Tren penggunaan prosedur minimal invasif sendiri terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Selain dinilai efektif, metode semacam ini umumnya menawarkan masa pemulihan yang lebih singkat dibanding operasi konvensional.

Pada operasi tiroid terbuka, pasien biasanya memerlukan sayatan di bagian depan leher, anestesi umum, serta waktu pemulihan yang lebih panjang. Bekas luka pascaoperasi juga menjadi pertimbangan bagi sebagian pasien.

Sebaliknya, RFA hanya memerlukan tusukan kecil pada kulit dan dilakukan dengan anestesi lokal. Prosedur biasanya berlangsung sekitar 30 hingga 60 menit, tergantung ukuran dan karakteristik nodul yang ditangani.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa tidak semua pasien dapat menjalani tindakan ini.

Sebelum menentukan terapi, pasien tetap harus menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari USG, evaluasi hormon tiroid, hingga Fine Needle Aspiration Cytology (FNAC) atau biopsi untuk memastikan bahwa nodul yang ditemukan bersifat jinak.

Menurut berbagai panduan medis internasional, RFA umumnya direkomendasikan bagi pasien dengan nodul tiroid jinak yang menyebabkan gangguan kosmetik, rasa tidak nyaman di leher, atau kista tiroid tertentu.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore