
Diskusi Peningkatan Penanganan Systemic Lupus Erythematosus oleh AstraZeneca Indonesia di Jakarta, Selasa (26/5). (Istimewa)
JawaPos.com - Indonesia tercatat memiliki sekitar 1,4 juta penyandang Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dengan tingkat mortalitas mencapai 8,1 persen, salah satu yang tertinggi di dunia. Di balik tingginya angka tersebut, masih banyak pasien yang baru mendapatkan diagnosis setelah mengalami kerusakan organ akibat keterlambatan deteksi.
SLE merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh, mulai dari kulit, sendi, ginjal, hingga sistem saraf pusat. Penyakit ini terjadi ketika sistem imun gagal membedakan jaringan sehat dengan ancaman, sehingga justru menyerang tubuh sendiri dan memicu peradangan berkepanjangan. Karena gejalanya sangat beragam dan menyerupai penyakit lain, SLE kerap sulit dikenali sejak awal.
Secara global, lupus masih menjadi tantangan kesehatan dengan angka kasus yang tinggi, namun belum sepenuhnya terpetakan karena keterbatasan data epidemiologi di sejumlah negara.
Berdasarkan data epidemiologi global selama 30 tahun terakhir, insidensi SLE diperkirakan mencapai 5,14 kasus per 100 ribu orang per tahun, dengan sekitar 400 ribu kasus baru terdiagnosis setiap tahunnya. Sementara di Indonesia, angka insidensinya diperkirakan mencapai 7,4 kasus per 100 ribu penduduk per tahun.
Indonesia juga tercatat berada di posisi keempat dunia untuk jumlah perempuan usia produktif 15-45 tahun yang hidup dengan SLE. Kondisi ini membuat lupus bukan sekadar persoalan medis, tetapi juga berdampak pada aspek sosial dan ekonomi karena dapat memengaruhi produktivitas serta kualitas hidup perempuan dalam keluarga maupun masyarakat.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Sandra Sinthya Langow, menjelaskan, SLE sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik.
“Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf. Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, sehingga sering kali membuat proses diagnosis menjadi lebih panjang,” ujar dr. Sandra dalam diskusi Peningkatan Penanganan Systemic Lupus Erythematosus oleh AstraZeneca Indonesia di Jakarta, Selasa (26/5).
Dalam proses biologisnya, SLE dipicu oleh aktivitas sistem imun yang berlebihan. Salah satu mekanisme penting yang berperan adalah jalur Interferon Tipe I yang menyebabkan tubuh terus berada dalam kondisi menyerang dirinya sendiri. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat menimbulkan kerusakan organ permanen.
“Perjalanan penyakit SLE bersifat fluktuatif, dengan periode flare dan terkontrol. Karena itu, pasien membutuhkan pemantauan serta penanganan jangka panjang. Tantangan yang sering kami temui di praktik klinis adalah keterlambatan diagnosis akibat gejala yang menyerupai penyakit lain. Pada banyak kasus, pasien baru terdiagnosis ketika sudah terjadi kerusakan organ, sehingga kondisinya menjadi lebih kompleks,” tambah dr. Sandra.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Levante vs Real Betis di Liga Spanyol 2026/2027: Tim Tamu Bisa Curi 3 Poin!
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Newcastle di Liga Inggris 2026/2027: Sengit, Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Coventry City vs Hull City di Liga Inggris 2026/2027: Bisa Berakhir Imbang!
Prediksi Susunan Pemain Sevilla vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Go Ahead Eagles di Liga Belanda 2026/2027: Kans Tuan Rumah Pesta Gol!
Prediksi Skor Monaco vs Marseille di Liga Prancis: Les Phoceens Tak Ingin Malu di Stade Louis II
Prediksi Skor Bournemouth vs Everton di Liga Inggris 2026/2027: Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Real Sociedad vs Espanyol: Los Periquitos Bisa Curi Poin di Anoeta?
Prediksi Skor Leeds United vs Brentford: The Bees Siap Sengat Tuan Rumah di Elland Road!
