
Ilustrasi pasien obesitas. (ist)
JawaPos.com – Obesitas atau kelebihan berat badan memang menjadi salah satu masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat saat ini. Gaya hidup dengan mengonsumsi makanan ultra-proses tinggi gula dan lemak secara berlebihan hingga kurang aktivitas bisa jadi pemicu obesitas.
Untuk menangani obesitas, perubahan gaya hidup terutama pola makan harus dilakukan secara konsisten. Biasanya, penderita obesitas diharuskan untuk reset pola makan yang memerlukan program weight management yang terstruktur. Salah satunya lewat operasi bariatrik.
Lantas, apa hubungannya operasi bariatrik dengan pola makan?
Saat ini, operasi bariatrik dapat menjadi pilihan penderita obesitas. Diungkapkan, Dokter Spesialis Bedah Digestif dr. Handy Wing, Sp.B, Subsp.BD(K), FBMS, FICS, FinaCS, operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik. Prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori serta respon hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya.
“Perlu keputusan untuk menjalani operasi bariatrik bukan ‘jalan pintas’, pasien akan membutuhkan adaptasi terhadap pola makan baru yang tidak biasa karena volume lambung yang mengecil,” ujar dr. Handy, yang juga menangani bedah Bariatrik pasien LIGHThouse Advanced Klinik.
Secara umum, sebelum dan setelah bariatrik, pola makan pasien pasti berubah secara signifikan. Terutama masa setelah operasi yang sangat krusial karena pasien harus beradaptasi dengan lambung barunya.
Untuk itu, dikatakan Veronica S.Gz. selaku Ahli Gizi dan program manager dari LIGHT Group, diperlukan pendampingan kecukupan nutrisi untuk mencegah defisiensi mikronutrien serta mendampingi tahapan makanan.
“Meskipun ukuran lambung lebih kecil, tantangan, godaan, dan keinginan tetap ada. Oleh karena itu, pasien bariatrik memerlukan pendampingan berkelanjutan agar hasil operasi dapat optimal dan bertahan dalam jangka panjang,” ujar Veronica.
Tapi, pasien yang menjalani operasi bariatrik bukan hanya butuh pendampingan nutrisi tapi juga psikologisnya. Dilansir dari situs Pubmed di bawah naungan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat, sekitar 15 persen pasien bariatrik mengalami depresi yang diakibatkan dari perubahan hormon dan metabolik.
Menurut Tara de Thouars Psikolog Klinis dari LIGHThouse Clinic, bagi banyak individu, makan bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi mekanisme coping. Jika akar emosionalnya tidak ditangani, rasa frustasi akan dihadapi pasien.

Prediksi Skor Amerika Serikat vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: The Stars and Stripes Tak Ingin Malu!
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Belgia vs Senegal di Piala Dunia 2026: Setan Merah Emoh Angkat Koper Lebih Dulu!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo: Bursa Jagokan Three Lions, Opta Beri Peluang Menang 73,9 Persen
Silaturahmi dengan Suporter PSIS, Malut United Pastikan Tak Pakai Nama Semarang dan Siap Mengalah soal Stadion
Ditunggu Saja! Persebaya Surabaya Siapkan 7 Pemain Asing Baru Usai Rombak Skuad Musim Lalu
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
