Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 Maret 2026 | 17.15 WIB

90 Persen Kasus Glaukoma Tidak Terdeteksi, Dokter Ingatkan Skrining Jika Ada Keluhan Mata Kabur

Dokter mata subspesialis glaukoma di JEC Group, Dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K) (Tazkia Royyan/JawaPos.com) - Image

Dokter mata subspesialis glaukoma di JEC Group, Dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K) (Tazkia Royyan/JawaPos.com)

JawaPos.com - Sekitar 80–90 persen kasus glaukoma di negara berkembang tidak terdiagnosis sehingga banyak pasien baru mengetahui penyakitnya ketika kerusakan penglihatan sudah terjadi. Masyarakat diingatkan untuk segera melakukan pemeriksaan mata apabila mengalami keluhan seperti penglihatan kabur atau nyeri pada mata.

Ketua Glaukoma Service di JEC Group, Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), Widya Artini Wiyogo, mengatakan sebagian besar kasus glaukoma berkembang tanpa gejala pada tahap awal sehingga sering tidak disadari.

"Mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan. Namun jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, mual, muntah, atau nyeri mata, masyarakat perlu segera memeriksakan diri," ujarnya kepada wartawan, Selasa (10/3).

"Karena itu, skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini," sambung Prof Widya.

Peringatan tersebut disampaikan dalam rangka peringatan World Glaucoma Week 2026 yang berlangsung pada 8–14 Maret 2026. Pekan kesadaran global yang diinisiasi World Glaucoma Association ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya deteksi dini glaukoma guna mencegah kebutaan.

Glaukoma merupakan penyakit saraf mata progresif yang merusak saraf optik secara bertahap, salah satunya akibat peningkatan tekanan di dalam bola mata. Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berada pada kisaran 10–21 mmHg. Jika tekanan meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi perlahan hingga menyebabkan penyempitan lapang pandang dan berujung pada kebutaan permanen.

Penyakit ini dapat dialami siapa saja, namun lebih sering terjadi pada individu berusia di atas 40 tahun dan menjadi penyebab kebutaan kedua setelah katarak. Karena gejalanya sering tidak muncul pada tahap awal, glaukoma kerap disebut sebagai “silent thief of sight”.

Dokter mata subspesialis glaukoma di JEC Group, Dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K), mengatakan kerusakan penglihatan akibat glaukoma bersifat permanen sehingga deteksi dini menjadi langkah paling penting.

"Glaukoma sering disebut sebagai silent thief of sight karena kerusakan saraf optik terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Banyak pasien baru datang ketika lapang pandangnya sudah menyempit. Dengan diagnosis yang tepat serta pemantauan yang teratur, perkembangan penyakit dapat dikendalikan sehingga kualitas penglihatan pasien tetap terjaga," tuturnya.

Menurut data yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah yang dimuat di PubMed oleh Tham dan kolega, jumlah penderita glaukoma di dunia diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada 2020 dan diproyeksikan meningkat menjadi 111,8 juta orang pada 2040 seiring pertumbuhan populasi dan meningkatnya angka harapan hidup.

Di Indonesia, prevalensi glaukoma diperkirakan sekitar 0,46 persen atau sekitar 4–5 orang per 1.000 penduduk berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2023.

Selain faktor usia, Dr. Zeiras menerangkan bahwa risiko glaukoma juga meningkat pada individu dengan riwayat keluarga glaukoma, diabetes, penggunaan obat steroid jangka panjang, kelainan refraksi tinggi seperti miopia atau hipermetropia, katarak, hingga riwayat cedera pada mata. Penyakit ini bahkan dapat terjadi sejak lahir dalam bentuk glaukoma kongenital.

Untuk menegakkan diagnosis, dokter biasanya melakukan sejumlah pemeriksaan mata seperti pengukuran tekanan bola mata (tonometri), pemeriksaan saraf optik menggunakan Optical Coherence Tomography (OCT), pemeriksaan lapang pandang, serta evaluasi sudut drainase mata melalui gonioskopi.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore