
Ilustrasi seorang anak yang mengalami gondongan. (Freepik)
JawaPos.com - Penyakit Kawasaki kerap luput dikenali karena gejalanya sering disalahartikan sebagai penyakit lain, mulai dari gondongan hingga infeksi saluran kemih. Akibatnya, banyak anak terlambat mendapatkan penanganan yang tepat hingga berujung pada kerusakan jantung permanen.
“Kalau pengalaman saya, terutama ini pembengkakan kelenjar getah bening. Sering kali dibilang gondongan. Padahal ini Kawasaki,” kata Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio(K), M.Med (Paed), dalam media briefing secara online, Selasa (10/2).
Unit Kerja Koordinasi Kardiologi IDAI itu menerangkan, pembesaran kelenjar getah bening di leher pada anak dengan Kawasaki sering langsung dicap sebagai gondongan. Padahal, gondongan memiliki karakteristik yang berbeda.
“Gondongan (itu) enggak ada mata merah, bibir merah itu enggak ada, demamnya juga enggak terlalu berat,” tuturnya.
Kesalahan diagnosis ini membuat anak kerap diberi antibiotik berulang kali. Namun, karena penyebabnya bukan infeksi bakteri, kondisi anak tak kunjung membaik.
“Sering kali dokter juga diobati sebagai gondongan, enggak sembuh-sembuh. Kasih antibiotik, lalu dibilang kurang mempan, dikasih antibiotik lagi berlarut-larut sehingga jantungnya keburu rusak,” lanjut Prof. Najib.
Urin Banyak Leukosit, Disangka ISK
Selain gondongan, Prof. Najib menyebut bahwa penyakit Kawasaki juga sering disalahartikan sebagai infeksi saluran kemih (ISK). Hal ini biasanya terjadi saat hasil pemeriksaan urin menunjukkan leukosit atau sel darah putih.
“Satu lagi yang sering salah artikan juga ialah kalau diperiksa urin ada darah putih, leukosit. Dibilangnya infeksi saluran kemih. Padahal itu bukan, Kawasaki,” jelasnya.
Ia menegaskan, ISK tidak disertai dengan mata merah, bibir merah, ruam kulit, maupun pembengkakan pada tangan dan kaki seperti yang ditemukan pada Kawasaki.
“Kalau infeksi saluran kemih enggak mungkin matanya merah, bibir merah, ruam ada bengkak dan sebagainya. Jadi itu mesti hati-hati,” tegas Prof. Najib.
Terlambat Ditangani, Anak Bisa Harus Operasi Jantung
Prof. Najib mengungkapkan, keterlambatan diagnosis dapat berujung pada kondisi jantung yang sangat serius. Ia mencontohkan pasien yang datang kepadanya setelah hampir satu bulan salah diagnosis sebagai ISK.
“Akhirnya terlambat hampir satu bulan datang ke saya. Saya sudah hampir menjerit, ‘waduh sudah besar sekali luar biasa’,” tuturnya.
Pasien tersebut akhirnya harus menjalani operasi bypass jantung ke Jepang. Meski operasi berhasil, dampaknya tidak bisa sepenuhnya dihilangkan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022