Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 26 Januari 2026 | 20.30 WIB

Kantin Sekolah Bukan Sekadar Tempat Jajan, Ini 3 Syarat Jadi Kantin Sehat Menurut Pakar Gizi IPB

TUNGGU GILIRAN: Siswa SMPN 42 Surabaya mengantre di kantin. Sekolah itu mendapatkan penghargaan kantin sehat tingkat nasional. (Dian Wahyu Pratama/Jawa Pos) - Image

TUNGGU GILIRAN: Siswa SMPN 42 Surabaya mengantre di kantin. Sekolah itu mendapatkan penghargaan kantin sehat tingkat nasional. (Dian Wahyu Pratama/Jawa Pos)

JawaPos.com - Kantin sekolah seringkali hanya dianggap sebagai tempat pengisi perut di jam istirahat. Padahal, peran kantin jauh lebih besar bagi masa depan anak bangsa. Kantin Sehat Sekolah (KSS) seharusnya menjadi jantung dari kesehatan fisik dan kecerdasan kognitif siswa.

Prof. Dr. Hardinsyah MS, Profesor Ilmu Gizi sekaligus Ketua Majelis Wali Amanat IPB University, menegaskan bahwa KSS adalah bagian krusial dari ekosistem pendidikan dan masyarakat.

"Tujuan utama KSS adalah mendukung kesehatan fisik, perkembangan kognitif, serta pembentukan kebiasaan makan sehat bagi seluruh warga sekolah, yang berdampak positif bagi kegiatan pendidikan bahkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat," ujar Hardinsyah kepada JawaPos.com.

3 Pilar Utama Kantin Sehat: Aman, Bergizi, Berkelanjutan

Menurut Hardinsyah, pengelolaan kantin tidak boleh sembarangan. Ada tiga prinsip utama yang wajib diterapkan agar kantin bisa disebut sehat:

1. Keamanan Pangan adalah Harga Mati

Makanan bergizi tidak akan ada artinya jika tidak aman dikonsumsi. Seluruh proses, mulai dari pengadaan bahan hingga penyajian, harus memenuhi standar sanitasi ketat.

"Tidak ada gunanya makanan bergizi bila tdk aman. Hal ini akan menjadi laboratorium hidup untuk pembelajaran tentang pilihan makanan sehat, bertanggung jawab, dan budaya hidup bersih," tegasnya.

2. Standar Gizi yang Terukur

Kantin harus mampu menyediakan asupan yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan guru. Prof. Hardinsyah menyebutkan bahwa penyediaan ini harus mengacu pada standar gizi dan pangan jajanan yang ditetapkan oleh lembaga berwenang.

3. Keberlanjutan dan Ekonomi Lokal

KSS sebaiknya tidak berdiri sendiri, melainkan didukung oleh kebijakan, pengawasan, dan sistem insentif yang jelas. Penggunaan bahan pangan lokal juga menjadi kunci agar berdampak pada kesejahteraan masyarakat sekitar.

Bukan Sekadar Proyek, Tapi Gerakan Kolektif

Prof. Hardinsyah mengingatkan bahwa mewujudkan kantin sehat bukanlah tugas sekolah semata. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, orang tua, hingga masyarakat sebagai pengawas dan mitra suplai.

Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini adalah cerminan komitmen bangsa terhadap generasi muda.

"Bukan dijadikan proyek insidental, melainkan gerakan yang berkelanjutan," imbuhnya.

Dengan kolaborasi yang solid, kantin sekolah diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat, kuat, dan ceria.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore